Weaponization of Finance: Mengapa Emas Menjadi Aset 'Anti-Sanksi' Utama BRICS di 2026

Emas fisik dan mata uang global, simbol pergeseran strategi lindung nilai di era weaponization of finance dan meningkatnya ketegangan geopolitik dunia. (Foto: Dok.)

Weaponization of Finance: Mengapa Emas Menjadi Aset 'Anti-Sanksi' Utama BRICS di 2026

Patrick Pinaria • 7 February 2026 14:13

Jakarta: Di tahun 2026, narasi pasar telah berubah. Risiko terbesar bagi investor bukan lagi apakah The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, melainkan eskalasi geopolitik. Kita hidup di era "Weaponization of Finance", di mana akses ke sistem keuangan global (Dolar AS dan jaringan SWIFT) digunakan sebagai senjata perang utama, menggantikan rudal dan tank.

Bagi investor ritel di Indonesia, ini mungkin terdengar abstrak. Namun, dampaknya sangat nyata terhadap nilai aset yang Anda pegang. Pembekuan cadangan devisa Rusia senilai USD300 miliar pada tahun 2022 adalah "Momen Lehman Brothers" bagi geopolitik. Peristiwa ini menyadarkan setiap gubernur bank sentral di dunia non-Barat, dari Beijing hingga Brasilia, bahwa aset kertas (fiat) memiliki Risiko Pihak Lawan (Counterparty Risk) yang fatal.

Sentimen yang kini mendasari kebijakan moneter global adalah: "Jika uang kami bisa dibekukan hanya karena ketidaksepakatan politik, maka itu sejatinya bukan uang kami. Itu hanyalah izin kredit yang bisa dicabut sewaktu-waktu."
 

Kematian aset 'Risk-Free' & kebangkitan emas

Selama 80 tahun pasca Perang Dunia II, Surat Utang AS (US Treasuries) dianggap sebagai aset paling aman di bumi (Risk-Free Asset). Negara-negara surplus perdagangan dengan senang hati memarkir triliunan dolar keuntungan mereka di sana. Namun, sanksi finansial telah meruntuhkan status tersebut seketika.

Emas fisik, sebaliknya, menawarkan proposisi nilai yang unik: Kedaulatan Murni. Emas yang disimpan di brankas domestik tidak membutuhkan izin jaringan SWIFT untuk valid. Emas tidak bisa dibekukan oleh sanksi dari Washington atau Brussels. Kenaikan cadangan emas bank sentral sebesar 2.300 ton dalam 30 bulan terakhir bukan karena kecintaan pada perhiasan, melainkan langkah strategis untuk mendapatkan kembali kedaulatan finansial tersebut.
 

Strategi BRICS & runtuhnya Petrodollar

Blok BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, dan anggota baru lainnya) tidak lagi bermain di pinggiran. Mereka sedang aktif membangun arsitektur keuangan tandingan. Strategi mereka jelas: memindahkan cadangan dari obligasi Dolar yang rentan sanksi ke Emas Fisik yang netral.

China memimpin gerakan ini dengan apa yang disebut analis sebagai "Silent Accumulation". Secara tidak resmi, pasar memperkirakan China memegang cadangan emas jauh di atas angka resmi yang dilaporkan, memberikan Beijing leverage untuk mempromosikan Yuan dalam perdagangan internasional. Langkah ini menciptakan efek domino, diikuti oleh Turki, India, dan bahkan sekutu tradisional AS seperti Singapura yang mulai melakukan lindung nilai (hedging) dengan emas.

Bersamaan dengan itu, era "Petrodollar", yakni kesepakatan tak tertulis bahwa minyak harus diperdagangkan dalam Dolar, sedang memudar. India kini membeli minyak Rusia dengan Rupee atau Dirham. China membeli minyak Arab Saudi dengan Yuan. Ketika Dolar tidak lagi dibutuhkan secara mutlak untuk perdagangan energi, permintaan struktural terhadap Dolar menurun. Di sisi lain, pasokan Dolar (melalui utang USD35 triliun) terus meningkat. Kombinasi Supply naik dan Demand turun adalah resep matematis untuk pelemahan Dolar jangka panjang, yang menjadi katalis utama bagi harga emas.
 

Strategi investasi defensif di Pluang

Investor ritel tidak bisa membeli 100 ton emas seperti bank sentral, tetapi kita bisa meniru alokasi aset "Smart Money" ini untuk melindungi kekayaan dari perang finansial menggunakan ekosistem Pluang:

1. Membeli 'kedaulatan' (emas & Bitcoin)

  • Pluang Emas: Ini adalah eksposur paling murni dan likuid terhadap aset riil. Lakukan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) untuk mengakumulasi posisi seiring waktu.
  • Bitcoin (BTC): Sering disebut "Emas Digital" karena sifatnya yang terdesentralisasi dan tahan sensor. Gunakan Aura AI, khususnya kartu Risk Insight dan Sentiment Insight, untuk memvalidasi apakah pasar sedang memandang Bitcoin sebagai Safe Haven (berkorelasi positif dengan Emas) atau sebagai Risk Asset (berkorelasi dengan saham teknologi). Saat korelasi BTC dan Emas menguat, itu adalah sinyal beli kuat untuk tesis anti-sanksi ini.

2. Saham tambang di yurisdiksi aman

Dalam perang geopolitik, lokasi aset fisik sangat krusial. Anda tidak ingin memegang saham perusahaan tambang yang beroperasi di negara konflik yang rentan terhadap nasionalisasi aset.
  • Eksekusi: Gunakan Smart Screeners di menu US Stocks.
  • Pilih preset "Strong Financial Health" untuk menyaring perusahaan dengan neraca kuat.
  • Pilih preset "Consistent Dividend Payers". Fokus pada raksasa tambang seperti Newmont (NEM) atau Barrick Gold (B) yang beroperasi di wilayah stabil secara hukum (Amerika Utara/Australia). Saham-saham ini memberikan leverage operasional: jika harga emas naik 10 persen, laba perusahaan tambang bisa naik 30-50 persen, memberikan keuntungan ganda bagi investor.

3. Lindung nilai mata uang (USD Yield)

Jika terjadi perang dagang atau sanksi global, mata uang Emerging Market seperti Rupiah sering kali tertekan. Memegang seluruh aset dalam Rupiah berisiko menurunkan daya beli global Anda.
  • Solusi: Diversifikasi sebagian kas cadangan (dry powder) Anda ke Dolar AS menggunakan fitur USD Yield. Meskipun tesis jangka panjang adalah pelemahan Dolar terhadap Emas, dalam jangka pendek saat terjadi kepanikan pasar (panic selling), Dolar sering menguat karena fenomena Flight to Safety. USD Yield memberikan bantalan likuiditas dengan imbal hasil kompetitif (3.38 persen p.a. untuk pengguna Plus), siap digunakan untuk membeli aset murah saat pasar panik.

 

Studi kasus: apa yang harus dilakukan saat berita sanksi keluar?

Mari kita simulasikan skenario masa depan. Misalkan besok AS mengumumkan sanksi finansial baru yang agresif terhadap negara ekonomi besar. Apa langkah taktis di aplikasi Pluang?
  1. Cek Aura AI: Lihat sentimen terhadap Emas dan Dolar. Biasanya, Dolar akan melonjak sesaat (panik), diikuti kenaikan Emas (lindung nilai).
  2. Manfaatkan 24-Hour Market: Jangan menunggu pasar saham AS buka di malam hari. Gunakan fitur 24-Hour Market di Pluang untuk segera mengamankan posisi saham teknologi yang rentan, dan merotasi modal ke saham tambang emas defensif.
  3. Hedging dengan Crypto Futures: Jika volatilitas pasar melonjak ekstrem, gunakan Crypto Futures untuk melakukan short selling atau hedging jangka pendek pada portofolio Anda untuk meminimalkan kerugian sementara.


Jangan menjadi korban

Dunia sedang berubah drastis. Tatanan global yang didominasi satu mata uang sedang retak, dan bank sentral telah menyadarinya dengan memborong emas secara agresif ("Quiet Panic"). Mereka sedang membangun sekoci penyelamat sebelum kapal Dolar bocor lebih besar.

Menganggap uang di bank atau obligasi negara sebagai aset "Risk-Free" adalah pandangan kuno yang berbahaya di era ini. Gunakan Pluang untuk membangun benteng pertahanan portofolio Anda: Emas untuk keamanan, Saham Tambang untuk pertumbuhan, dan Crypto untuk kedaulatan digital. Sejarah mengajarkan bahwa dalam masa transisi geopolitik, kekayaan tidak hilang, hanya berpindah tangan. Pastikan ia berpindah ke tangan Anda.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Rosa Anggreati)