AS Negosiasi dengan Houthi, Arab Saudi Terancam Hadapi Konflik Yaman Sendiri

Presiden AS Donald Trump bersama Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman. Foto: The New York Times

AS Negosiasi dengan Houthi, Arab Saudi Terancam Hadapi Konflik Yaman Sendiri

Muhammad Reyhansyah • 18 September 2026 10:24

Riyadh: Arab Saudi berpotensi menghadapi ancaman kelompok Houthi di Yaman seorang diri setelah Amerika Serikat (AS) dilaporkan menggelar perundingan langsung dengan kelompok yang didukung Iran tersebut. 

Dugaan kesepahaman kedua pihak muncul ketika pasukan Houthi terus memperluas serangan di pesisir Laut Merah Yaman dan mengancam jalur ekspor minyak utama Saudi.

Dilaporkan bahwa pejabat AS bertemu perwakilan Houthi di Kedutaan Besar AS di Muscat, Oman, pada akhir pekan lalu. Pertemuan tersebut difasilitasi Oman setelah serangan mendadak Houthi di pesisir Laut Merah Yaman.

Dalam pertemuan itu, perwakilan Houthi disebut menyampaikan bahwa mereka tidak berniat menyerang kapal AS dan tetap berkomitmen pada gencatan senjata dengan Washington yang dicapai pada 2025.

“Delegasi Houthi berjanji tidak akan menargetkan kapal Israel, tetapi akan menyerang kapal-kapal Saudi di Laut Merah,” sebut laporan itu, dikutip dari India Today, Jumat, 18 September 2026.

Wakil Presiden AS JD Vance kemudian mengonfirmasi bahwa Washington sedang bernegosiasi langsung dengan Houthi.

"Kami juga telah terlibat dalam pembicaraan langsung dengan Houthi sendiri, jadi kami merasa benar-benar menguasai situasi," kata Vance kepada wartawan pada Senin, menurut Axios.

Meski demikian, belum ada konfirmasi resmi bahwa AS dan Houthi telah mencapai kesepakatan. Namun, sejumlah pihak menilai pertemuan tersebut berpotensi menghasilkan kesepahaman tidak tertulis yang memungkinkan pelayaran internasional tetap berjalan, sementara kapal Saudi tetap menjadi sasaran.

Kesepahaman Diam-Diam

Mantan Wakil Duta Besar AS untuk Yaman Nabeel Khoury mengatakan kepada The Guardian bahwa terdapat indikasi "semacam kesepahaman diam-diam" antara pemerintahan Donald Trump dan Houthi setelah pertemuan di Muscat.

"Houthi menjanjikan kepada pemerintahan Amerika bahwa pelayaran Amerika dan internasional tidak akan terdampak di Laut Merah. Namun, satu-satunya bahaya adalah kapal-kapal Saudi atau kapal yang mengangkut minyak Saudi," kata Khoury.

Dugaan kesepahaman itu muncul ketika Saudi menghadapi tekanan militer yang meningkat di Yaman. Pekan lalu, Houthi melancarkan serangan mendadak di pesisir Laut Merah dan menguasai sejumlah pulau di sekitar Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur ekspor minyak penting bagi Riyadh.

Serangan drone dan rudal Houthi juga terus mengancam kota-kota serta infrastruktur energi Saudi. Salah satu drone bahkan memicu alarm pertahanan sipil di Kota Suci Mekkah pada 15 September.

Di sisi lain, sekutu Saudi menunjukkan keengganan untuk terlibat langsung. Pakistan dan Turki telah menolak operasi tempur di Yaman, sementara AS dan Inggris menolak permintaan serangan udara terhadap posisi Houthi.

Saudi bahkan dilaporkan meminta bantuan intelijen Israel, negara yang hingga kini tidak diakui Riyadh sebagai negara merdeka.

AS sebelumnya telah melancarkan kampanye pengeboman terhadap Houthi pada 2024 setelah serangkaian serangan rudal dan drone kelompok tersebut mengganggu pelayaran komersial di Laut Merah.

Namun, setelah mencapai gencatan senjata pada 2025, Washington kini menghadapi keterbatasan sumber daya akibat keterlibatannya dalam perang dengan Iran. Kondisi tersebut dinilai mengurangi kemampuannya untuk kembali melancarkan operasi militer besar terhadap Houthi.

Sementara itu, Houthi tetap menolak mundur dari wilayah yang telah dikuasainya. Dengan sekutu-sekutunya, termasuk AS dan Pakistan, menunjukkan sedikit keinginan untuk melakukan intervensi langsung, Saudi berpotensi harus menghadapi ancaman Houthi dengan dukungan yang semakin terbatas.

(Fajar Nugraha)