Penjaga Pantai AS kerap mengejar kapal tanker minyak terkait Venezuela di perairan Karibia. (Anadolu Agency)
Tanker Minyak Venezuela Ganti Bendera Rusia untuk Hindari Intersepsi AS
Muhammad Reyhansyah • 7 January 2026 14:04
Washington: Sebuah kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela dan beroperasi dalam jaringan yang dikenal sebagai dark fleet dilaporkan mengecat bendera Rusia di lambungnya, mengganti nama kapal, serta mengalihkan pendaftaran ke Rusia. Langkah tersebut diduga dilakukan untuk menghindari intersepsi oleh Penjaga Pantai Amerika Serikat (AS).
Kapal tersebut kemudian terpantau berlayar di perairan lepas Irlandia. Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Irlandia dilaporkan melakukan pengawasan udara setelah kapal itu lolos dari upaya pencegatan AS pada Desember lalu, menurut laporan The Times.
Kapal tanker bernama Bella 1 disebut telah mengganti nama menjadi Marinera dan mendaftar di bawah bendera Rusia setelah meninggalkan kawasan tersebut. Informasi ini berdasarkan laporan intelijen dari Windward, perusahaan analitik maritim berbasis kecerdasan buatan.
“Kapal tanker Bella 1 yang berdagang dengan Venezuela dan melarikan diri ini mengecat bendera Rusia di lambungnya, mengganti nama, dan beralih bendera ke Rusia di tengah pelayaran pekan lalu untuk menghindari penangkapan oleh Penjaga Pantai AS di Samudra Atlantik,” ujar Windward, seperti dikutip Fox News, Rabu, 7 Januari 2026.
Sejumlah laporan pada Selasa menyebutkan kapal tersebut kini berada di bawah pengawasan militer AS sekitar 230 mil dari pantai Irlandia. Pesawat pengintai P-8 milik AS dilaporkan melacak pergerakan tanker itu dalam beberapa hari terakhir.
Sementara itu, CBS News melaporkan bahwa pasukan AS telah memburu kapal tersebut sejak Desember, seiring Washington memperketat penegakan terhadap pengiriman minyak Venezuela yang melanggar sanksi.
Sumber intelijen juga menyebut Caracas sempat mempertimbangkan penempatan personel militer di atas tanker minyak yang menyamar sebagai kapal sipil untuk membantu menghindari blokade AS. Di sisi lain, pasukan AS dilaporkan tengah bersiap untuk mencegat tanker tersebut.
Pengejaran ini terjadi setelah operasi militer AS di Venezuela pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump, yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, pada 3 Januari. Maduro telah tampil di pengadilan federal New York dan mengajukan pembelaan tidak bersalah atas dakwaan narco-terorisme, seraya menyebut dirinya sebagai “tawanan perang."
Sanksi dan Pola “Dark Fleet”
Situs pelacakan tanker TankerTrackers.com menuding Bella 1 sebelumnya mengangkut jutaan barel minyak mentah Iran dan Venezuela ke Tiongkok sepanjang 2021–2025.“Bella 1, yang kini dikenal sebagai Marinera, tidak sendirian,” kata Windward.
Kapal tersebut telah berada di bawah sanksi Departemen Keuangan AS sejak Juni 2024, dengan tuduhan mengangkut kargo minyak ilegal yang terkait dengan perusahaan berhubungan dengan Hizbullah.
Windward menyebut kapal tanker berukuran sangat besar itu kini bergabung dengan armada tanker yang disanksi Barat dan mencari perlindungan di bawah bendera nasional Rusia. Dalam enam bulan terakhir, belasan tanker serupa dilaporkan berpindah dari registri terbuka ke Rusia, dengan tren yang meningkat tajam pada Desember lalu.
Selain Marinera, Windward juga mengidentifikasi dua tanker lain yang disanksi Barat dan berada di perairan Venezuela yang baru-baru ini mengalihkan bendera ke Rusia. Tanker Hyperion dilaporkan meninggalkan Venezuela pada 1 Januari dengan mengibarkan bendera Rusia, sementara Premier mengubah sinyal AIS dari Gambia ke Rusia pada 22 Desember dan hingga kini masih berada di Terminal José, Venezuela.
Baca juga: AS Kejar Kapal Tanker Ketiga di Karibia, Diduga Terlibat Jaringan Minyak Gelap