Banjir merendam Desa Kalisari, Demak, Jawa Tengah, Jumat, 9 Januari 2026. (Metrotvnews.com/Rhobi Shani)
Banjir Kepung Demak, Sungai Dangkal dan Pintu Air Jebol jadi Penyebab
Rhobi Shani • 9 January 2026 21:43
Demak: Banjir kembali merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Sedikitnya tiga desa di Kecamatan Sayung dan Desa Tridonorejo di Kecamatan Bonang terdampak akibat curah hujan tinggi, rob, pendangkalan sungai, serta kerusakan pintu air.
Di Kecamatan Sayung, banjir dipicu pendangkalan Sungai Dombo Sayung dan kondisi topografi wilayah yang rendah. Kepala Desa Kalisari, Sugiyono, mengatakan sungai yang dulu berada lebih rendah dari permukiman kini justru lebih tinggi akibat pendangkalan.
“Sekarang Sungai Dombo sudah dangkal. Debit airnya tinggi, sehingga Kalisari kesulitan membuang air banjir. Padahal satu-satunya andalan kami hanya sungai itu,” ujarnya, Jumat, 9 Januari 2026.
Kondisi tersebut membuat banjir di Desa Kalisari tidak lagi bersifat musiman dan dapat bertahan sepanjang tahun.
“Lahan pertanian tidak bisa dimanfaatkan sama sekali, rumah warga juga terus tergenang. Kalau dulu banjir paling sebulan, sekarang bisa setahun penuh,” kata Sugiyono.
“Kalisari ini tempat kumpulnya air dari Batursari, Jamus, Pringjajar dan desa lainnya. Sungai Dombo sekarang airnya lebih tinggi dari desa, jadi air banjir tidak bisa keluar,” ungkapnya.
Sementara itu, banjir juga merendam Desa Tridonorejo, Kecamatan Bonang, akibat jebolnya pintu kanal pembuangan air di wilayah Keripik Cilik yang mengarah ke Sungai Kalijajar. Kepala Desa Tridonorejo, Syeni Kalistyo, mengatakan air hujan dari daratan tidak bisa mengalir keluar karena tertahan rob.
“Yang jelas ini air dari darat, air hujan tidak bisa keluar karena dampak rob yang terlalu tinggi, sehingga air tidak bisa mengalir,” ujarnya.

Banjir di Desa Tridonorejo Demak akibat pintu kanal jebol. Metrotvnews.com/ Rhobi Shani.
Jebolnya pintu air membuat limpasan Sungai Kalijajar langsung masuk ke permukiman warga.
“Kalau Kalijajar airnya besar dan meluap, tidak bisa ditutup karena pintunya jebol, sehingga air masuk semua ke pemukiman warga,” jelas Syeni.
Akibat banjir tersebut, sejumlah rumah warga terendam hingga sekitar 30 sentimeter. Warga berharap pemerintah segera melakukan normalisasi sungai, memperbaiki pintu air, serta menyediakan pompa berkapasitas besar agar banjir dapat ditangani secara permanen.