Danantara Dorong Transfer Teknologi dalam Investasi Material Maju

Ilustrasi Wisma Danantara Indonesia. Foto: Dok istimewa

Danantara Dorong Transfer Teknologi dalam Investasi Material Maju

Eko Nordiansyah • 11 August 2026 15:16

Jakarta: Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mendorong transfer teknologi, pengembangan bersama, serta keterlibatan perguruan tinggi dan lembaga riset dalam investasi material maju guna memperkuat kapabilitas industri dan teknologi nasional.

Managing Director Industrialization Danantara Ardy Muawin mengatakan pendekatan investasi tidak hanya mempertimbangkan biaya dan waktu, tetapi juga kontribusinya terhadap pengembangan industri di dalam negeri.

“Konsep kami dalam mengajak mitra investasi bukan hanya soal biaya dan waktu, tapi juga industrial development. Kami ingin ada transfer teknologi, co-development, hingga keterlibatan universitas dan lembaga riset seperti BRIN,” kata Ardy dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 11 Agustus 2026.

Menurut dia, penguasaan material maju diperlukan agar Indonesia dapat berkembang dari negara yang mengandalkan kekayaan sumber daya menjadi negara dengan kemampuan industri dan teknologi yang lebih kuat.

Dorongan pengembangan material maju tersebut berlangsung seiring bertumbuhnya investasi hilirisasi di Indonesia.

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun pada semester I-2026 atau 29,7 persen dari total investasi nasional Rp1.010,6 triliun.

Pada kuartal II-2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp152,7 triliun. Bauksit menjadi komoditas terbesar dengan Rp40,1 triliun, disusul nikel Rp29,4 triliun, tembaga Rp16,7 triliun, besi dan baja Rp13,2 triliun, serta pasir silika Rp4 triliun.

Indonesia juga dinilai memiliki modal sumber daya yang besar untuk pengembangan industri tersebut. Badan Geologi Kementerian ESDM, dengan merujuk data United States Geological Survey (USGS), menyebut Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia dengan porsi lebih dari 40 persen cadangan global.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Hilirisasi sumber daya alam

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan sumber daya seperti nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga unsur tanah jarang merupakan bahan penting bagi pengembangan teknologi, termasuk baterai kendaraan listrik, semikonduktor, industri pertahanan, dan energi bersih.

Menurut Rosan, pengelolaan sumber daya mineral perlu bergerak lebih jauh dari tahap ekstraksi menuju pengembangan material dan produk teknologi bernilai tambah lebih tinggi di dalam negeri.

“Kami sepakat bahwa sudah saatnya Indonesia naik kelas dalam rantai nilai material maju,” ujar Rosan.

Arah investasi Danantara, lanjut dia, tidak hanya ditujukan untuk menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat kapabilitas industri dan teknologi nasional, menciptakan lapangan pekerjaan berkualitas, serta mendukung pembangunan berkelanjutan.

“Ini sudah menjadi komitmen Danantara agar investasi menciptakan nilai bagi bangsa,” ucap dia.

Salah satu upaya yang telah dilakukan ialah penandatanganan kerja sama pengembangan material maju atau hilirisasi mineral kritis antara PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID, PT Len Industri (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) (Persero).

Kerja sama tersebut antara lain diarahkan untuk mengoptimalkan pasokan dan penyerapan mineral kritis serta material maju bagi industri strategis nasional dan mengembangkan teknologi bersama untuk membangun industri material maju dalam negeri.

Peningkatan SDM untuk teknologi

Teknokrat sekaligus Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ilham Akbar Habibie menilai penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar Indonesia mampu mengembangkan teknologi secara mandiri.

“Pembangunan teknologi harus berjalan beriringan dengan pengembangan kualitas SDM. Dengan SDM semakin kuat, Indonesia akan memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi secara mandiri dan tidak terus bergantung pada produk maupun pengetahuan dari negara lain,” ujar Ilham.

Menurut dia, kekayaan sumber daya alam saja tidak cukup untuk membawa suatu negara menjadi maju tanpa kemampuan menerapkan, melembagakan, dan menguasai teknologi.

“Industri pada akhirnya sangat bergantung pada kemampuan suatu negara untuk menerapkan, melembagakan, dan menguasai teknologi. Kalau kita tidak bisa menerapkan, melembagakan, menguasai teknologi, kita tidak akan menjadi negara maju,” ungkap dia.

Ia menilai transformasi dari ekonomi berbasis sumber daya alam menuju industri dan teknologi diperlukan agar kekayaan mineral dapat menghasilkan nilai tambah lebih tinggi, memperkuat kemandirian industri, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

(Eko Nordiansyah)