Korea Selatan memprotes keras klaim Jepang atas Dokdo yang kembali dimuat dalam buku putih pertahanan tahunan Negeri Sakura. (Anadolu Agency)
Korea Selatan Protes Keras Klaim Jepang atas Gugusan Pulau Sengketa Dokdo
Willy Haryono • 4 August 2026 17:48
Seoul: Korea Selatan melayangkan protes diplomatik keras kepada Jepang setelah Tokyo kembali memasukkan klaim kedaulatannya atas gugusan pulau sengketa Dokdo dalam buku putih pertahanan tahunan Negeri Sakura yang dirilis pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Pulau yang dikenal sebagai Dokdo di Korea Selatan dan Takeshima di Jepang itu telah lama menjadi sumber ketegangan antara kedua negara.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan memanggil Kazuo Tsuchiya, Wakil Kepala Misi Kedutaan Besar Jepang di Seoul, untuk menyampaikan nota protes resmi, sebagaimana dilaporkan kantor berita Yonhap.
"Pemerintah dengan tegas memprotes klaim teritorial Jepang yang terus diulang dan tidak dapat dibenarkan atas Dokdo, serta mendesak agar klaim tersebut segera dicabut," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, Park Doo-soon, seperti dikutip dari Anadolu Agency.
Ia menegaskan Dokdo merupakan wilayah Korea Selatan yang "tidak terbantahkan" berdasarkan sejarah, letak geografis, dan hukum internasional.
Selain Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan Korea Selatan juga memanggil atase militer Jepang untuk menyampaikan keberatan atas klaim tersebut.
Sebelumnya pada hari yang sama, pemerintah Jepang merilis buku putih pertahanan tahunannya setelah rapat kabinet dan kembali menegaskan klaim kedaulatan atas pulau-pulau tersebut.
Perselisihan mengenai Dokdo/Takeshima telah berlangsung selama beberapa dekade dan menjadi salah satu isu paling sensitif dalam hubungan bilateral Jepang dan Korea Selatan.
Jepang secara rutin mencantumkan klaim atas pulau tersebut dalam dokumen kebijakan, pernyataan resmi, maupun buku pelajaran sekolah.
Sementara itu, Korea Selatan mempertahankan pos polisi kecil di Dokdo dan secara efektif menguasai gugusan pulau tersebut.
Baca juga: Korsel Tangguhkan Latihan Militer dengan Jepang akibat Sengketa Pulau