Sering Ditipu, Iran Sebut Negosiasi Bergantung Pada Komitmen AS

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei. Foto: Press TV

Sering Ditipu, Iran Sebut Negosiasi Bergantung Pada Komitmen AS

Fajar Nugraha • 22 June 2026 07:10

Burgenstock: Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan, pembicaraan tentang kesepakatan akhir dengan Amerika Serikat (AS) akan bergantung pada Washington yang menghormati klausul gencatan senjata utama dalam nota kesepahaman yang ditandatangani minggu ini.

Berbicara di Bürgenstock, Baqaei mengatakan, Teheran datang ke pembicaraan di Swiss untuk mendorong implementasi, bukan hanya untuk membubuhkan namanya pada dokumen lain.

"Pertemuan ini sebenarnya merupakan indikator keseriusan Iran dalam menuntut tindak lanjut komitmen pihak lawan," tegas Baqaei, seperti dikutip dari Viory, Senin 22 Juni 2026.

"Sama sekali bukan niat kami untuk hanya menandatangani dokumen dan mengharapkan dokumen ini akan secara otomatis diimplementasikan oleh pihak lain. Kami tidak dapat, dalam keadaan apa pun, mengabaikan pengalaman kami sebelumnya," tambah Baqaei.

Baqaei mengatakan, Klausul 13 membuat pembicaraan tentang kesepakatan akhir bergantung pada pelaksanaan lima klausul sebelumnya terlebih dahulu. Ia menunjuk pada Klausul 1, yang menurutnya mensyaratkan penghentian perang di semua lini, termasuk Lebanon.

“Kita tahu bahwa klausul ini belum diimplementasikan. Amerika Serikat tidak mampu atau tidak mau,” lanjut Baqaei.

Ia mengatakan kontak terus berlanjut melalui perantara karena Teheran berusaha untuk menjaga agar memorandum tersebut tetap berlaku.

Pembicaraan tersebut diharapkan berlangsung lebih awal, tetapi Departemen Luar Negeri Federal Swiss mengatakan bahwa pembicaraan tersebut ditunda pada 19 Juni, sementara persiapan di Bürgenstock terus berlanjut. Swiss mengatakan pihaknya tetap siap untuk memfasilitasi pertemuan tersebut.

Memorandum tersebut ditandatangani setelah beberapa hari mediasi. Presiden AS Donald Trump menandatanganinya di Istana Versailles pada 17 Juni, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menandatangani perjanjian tersebut. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif kemudian menambahkan tanda tangan Pakistan di Islamabad.

Memorandum 14 klausul tersebut dimaksudkan untuk meredakan konflik dan membuka jendela 60 hari untuk negosiasi yang lebih luas. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Iran diharapkan untuk membuka kembali jalur perdagangan melalui Selat Hormuz secara gratis selama 60 hari. Washington diperkirakan akan segera mulai mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan menyelesaikan proses tersebut dalam waktu 30 hari.

(Fajar Nugraha)