Kondisi kabut asap semakin pekat di Kota Pontianak, Sabtu (12/9/2026). ANTARA/Dedi
Kabut Asap Makin Pekat, Kualitas Udara Pontianak Masuk Kategori Berbahaya
Silvana Febiari • 12 September 2026 15:35
Pontianak: Indeks kualitas udara di Kota Pontianak, Kalimantan Barat berdasarkan IQAir pada 12 September 2026 pukul 12.00 WIB kategori berbahaya, yakni tercatat 1.368. Polutan utama yang terdeteksi adalah PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 761 µg/m³.
"Hari ini udara makin parah kabut asap makin pekat," ujar salah satu warga Pontianak, Darson, dilansir dari Antara, Sabtu, 12 September 2026.
Menurutnya, kabut asap sudah sangat tebal bahkan pada siang hari, terlebih pada pagi hari. Ia khawatir kondisi tersebut membahayakan kesehatan warga.
"Berharap kondisi ini segara berakhir. Pasalnya bisa buat sesak, " kata dia.
Meski kabut asap semakin pekat, aktivitas masyarakat di luar rumah masih berjalan normal. Namun, kegiatan belajar mengajar masih dilakukan secara daring.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengimbau warga disiplin menggunakan masker karena kabut asap semakin pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Kami mengimbau dan terus mengingatkan kepada warga yang beraktivitas di luar rumah agar tetap menggunakan masker dan memperbanyak minum air putih," ungkap dia
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan batas pedoman konsentrasi PM2.5 rata-rata 24 jam sebesar 15 µg/m³. Dengan konsentrasi mencapai 761 µg/m³, kadar PM2.5 di Pontianak sekitar 51 kali lebih tinggi dari pedoman tersebut.
WHO menegaskan paparan PM2.5 dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan. Partikel berukuran sangat kecil dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
.jpg)
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. Foto: Antara.
Kondisi ini menjadi perhatian khusus karena pada saat pengukuran suhu Pontianak tercatat 38°C, kelembapan sekitar 34 persen, dan kecepatan angin hanya 5 km/jam. Kombinasi cuaca panas, kelembapan relatif rendah, serta pergerakan angin yang tidak terlalu kuat berpotensi membuat polutan bertahan lebih lama di udara.
Namun, faktor cuaca tersebut tidak dapat dijadikan bukti tunggal mengenai penyebab tingginya PM2.5. Diperlukan data tambahan mengenai sumber emisi dan kondisi atmosfer untuk memastikan penyebabnya.
Dalam kondisi seperti ini, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan. Penggunaan masker yang mampu menyaring partikulat juga dapat dipertimbangkan ketika harus beraktivitas di luar.