Selain Indonesia, Ini 4 Negara yang Alami Kenaikan Avtur Imbas Perang

Ilustrasi. Foto: Dok istimewa

Selain Indonesia, Ini 4 Negara yang Alami Kenaikan Avtur Imbas Perang

Riza Aslam Khaeron • 7 April 2026 20:16

Jakarta: Memasuki minggu kelima perang Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026 oleh serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel, sejumlah kebutuhan dan komoditas mulai terdampak.

Pada Senin, 6 April 2026, Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa tarif tiket pesawat domestik bakal terkerek naik antara 9 hingga 13 persen. Lonjakan ini merupakan konsekuensi langsung dari melambungnya harga avtur dunia.

“Agar kenaikan tiket domestik tetap terjangkau oleh masyarakat dengan menjaga kenaikan harga tiket di kisaran 9 persen hingga 13 persen,” ujar Menko Airlangga di Jakarta.

Sebagai bentuk mitigasi guna menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global, pemerintah menempuh sejumlah kebijakan strategis.

Salah satunya adalah melakukan penyesuaian pada fuel surcharge (FS). Besaran tambahan biaya bahan bakar ini kini dipatok di angka 38% untuk pesawat baik jenis jet maupun propeler. Persentase tersebut melonjak signifikan dari ketentuan sebelumnya yang hanya sebesar 10% untuk jet dan 25% untuk propeler.

Fenomena ini tidak hanya melanda Indonesia. Berbagai negara di dunia juga dipaksa melakukan penyesuaian harga bahan bakar penerbangan akibat konflik yang belum menunjukan adanya tanda-tanda deeskalasi.

Metrotvnews.com telah rangkuman situasi serupa di beberapa negara sebagai berikut ini.
 

India

India menjadi salah satu negara yang lebih dulu menyesuaikan harga avtur di tengah lonjakan harga energi global akibat perang. Mengutip Reuters , pada 1 April 2026, peritel bahan bakar domestik menaikkan harga avtur sebesar 8,6% menjadi 104.927 rupee per kiloliter di New Delhi.

Meski demikian, pemerintah India tidak langsung meneruskan seluruh lonjakan harga internasional kepada maskapai. Melansir Reuters, Kementerian Penerbangan Sipil India menyebut penyesuaian yang diberikan kepada maskapai hanya bersifat parsial dan bertahap agar biaya perjalanan domestik tetap lebih terkendali.


Ilustrasi Pexels

Nepal

Nepal mengambil langkah yang jauh lebih drastis. Negara Himalaya itu menaikkan harga avtur lebih dari dua kali lipat mulai 1 April 2026 untuk menghindari gangguan pasokan.

Mengutip Reuters, Nepal Oil Corporation menaikkan harga avtur untuk penerbangan internasional dari ibu kota Kathmandu sebesar 84,7%, dari Pokhara 116,2%, dan dari Bhairahawa 117,4%. Untuk penerbangan domestik, harga avtur juga naik 97,6 persen.

Dampaknya langsung terasa pada ongkos perjalanan udara. Otoritas penerbangan sipil Nepal menyebut tarif penerbangan domestik melonjak hingga 50%.
 
Baca Juga:
Harga Avtur Pertamina Lebih Murah Dibandingkan Thailand dan Filipina
 

Bangladesh

Bangladesh juga mencatat lonjakan tajam pada harga bahan bakar pesawat. Mengutip media lokal Dhaka Tribune, Bangladesh Energy Regulatory Commission (BERC) pada 24 Maret 2026 menaikkan harga jet fuel untuk penerbangan domestik menjadi 202,29 taka per liter dari sebelumnya 112,41 taka.

Untuk penerbangan internasional, harganya dinaikkan menjadi US1,3216 AS per liter dari US0,7385 AS per liter.
 

Brasil

Di Amerika Latin, Brasil juga terdampak kenaikan tajam avtur. Petrobras pada awal April 2026 mengumumkan kenaikan harga jet fuel sebesar 54,8% setelah lonjakan harga minyak yang dikaitkan dengan perang AS-Israel melawan Iran.

Sebagai perusahaan minyak negara dan pemain utama di sektor pemurnian Brasil, keputusan Petrobras langsung berpengaruh besar terhadap distribusi bahan bakar penerbangan di negara tersebut.

Namun, Brasil memilih skema yang lebih lunak untuk mengurangi guncangan langsung. Petrobras memperbolehkan distributor membayar sisa kenaikan harga secara mencicil. Dengan mekanisme itu, distributor yang memasok maskapai hanya menanggung kenaikan sekitar 18% pada April, sedangkan sisa kenaikan dibayar dalam enam angsuran mulai Juli 2026.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)