Podium MI: Jalan Buntu

Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto- Media Indonesia (MI)/Ebet

Podium MI: Jalan Buntu

Abdul Kohar • 14 April 2026 07:52

MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran? Jawabannya sederhana: karena AS ingin mengamankan pasokan minyak mereka. Amerika ialah negara dengan konsumsi minyak terbesar di dunia, yakni 20 juta barel per hari.

Malangnya, 'Negeri Paman Sam' itu tak sanggup memenuhi sendiri kebutuhan minyak dalam negeri mereka. AS hanya bisa memproduksi minyak 13 juta barel per hari. Karena itu, kekurangannya yang sekitar 7 juta barel per hari harus diimpor.

Jadi, amat tidak mengherankan bila Presiden Donald Trump ingin menguasai minyak dunia. Caranya, setelah memegang kendali distribusi minyak Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, AS pun mengincar Iran. Namun, Iran bukan Venezuela. Amerika gagal total menaklukkan 'Negeri Persia' itu. Yang terjadi justru 'kewibawaan' AS sebagai 'sang penakluk' rontok.

Karena itulah, mengendalikan Selat Hormuz yang selama ini berada di bawah kontrol Teheran ialah jalan paling minimal. "Jangan sampai lepas," begitu kira-kira logika Amerika. Perundingan damai dengan Iran yang dimediasi Pakistan ialah 'pertaruhan' penting Amerika untuk mengegolkan ambisi yang tersisa. Sialnya, itu pun gagal.

Kegagalan itu menjadi pengingat keras bahwa jalan diplomasi tidak pernah lurus dan lapang. Ia kerap berliku, penuh jeda, bahkan tersendat di tikungan tajam kepentingan nasional tiap pihak. Namun, publik Amerika terus menagih Trump. Kegagalan menaklukkan Iran dalam perkara Selat Hormuz membuat harga bahan bakar minyak di Amerika kian tak terkendali.

Rata-rata harga bensin di AS, pekan lalu, mencapai USD4,16 per galon (sekitar Rp19 ribu per liter, dari sebelumnya sekitar Rp13 ribu). Sementara itu, harga solar tercatat USD5,67 per galon (sekitar Rp26 ribu per liter, padahal sebelumnya sekitar Rp16 ribu). Itu menjadi harga tertinggi yang dibayar konsumen menjelang musim puncak perjalanan musim panas, sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, yang mengguncang pasar energi global.

Dengan kenaikan harga itu, secara hitung-hitungan diperkirakan telah menambah pengeluaran bensin dan solar di AS sebesar USD10,4 miliar (lebih dari Rp175 triliun) pada periode 1 Maret hingga 10 April, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sejak perang dimulai. Bagi warga Amerika, itu sangat memukul. "Anda harus membayar cicilan truk, beli ban, ganti oli, dan menafkahi keluarga, ini benar-benar mematikan kami," kata seorang sopir truk di Houston.

Pertemuan yang difasilitasi di Pakistan itu sejatinya telah menghasilkan secercah harapan. Kedua delegasi mengakui adanya kesepahaman pada sejumlah isu. Namun, sebagaimana diungkapkan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, perbedaan mendasar pada dua atau tiga isu krusial menjadi batu sandungan yang tak mampu disingkirkan dalam putaran kali ini. Dari pihak Washington, Wakil Presiden JD Vance juga mengonfirmasi kebuntuan tersebut.

Di sinilah pentingnya memandang kegagalan itu secara proporsional. Diplomasi memang bukan sekadar soal hasil akhir, melainkan juga proses membangun kepercayaan yang kerap memerlukan waktu panjang. Tidak jarang, kegagalan tahap awal justru menjadi fondasi bagi terobosan di tahap berikutnya. Sejarah hubungan internasional mencatat, banyak kesepakatan besar lahir dari rangkaian dialog yang sempat menemui jalan buntu.


Aktivitas kapal di Selat Hormuz. (Anadolu Agency)

Baca Juga: 

Iran Ancam Keamanan Pelabuhan Teluk Usai Blokade Laut AS

Karena itu, pernyataan delegasi Iran bahwa pintu perundingan berikutnya tetap terbuka patut diapresiasi. Sikap tersebut menunjukkan adanya kesadaran bahwa eskalasi konflik bukanlah pilihan rasional, terlebih di tengah situasi global yang rapuh. Dunia saat ini tidak membutuhkan tambahan titik panas baru, tapi stabilitas yang memungkinkan pemulihan ekonomi dan kemanusiaan berjalan lebih pasti.

Apalagi, kegagalan di Islamabad terjadi di tengah masa gencatan senjata dua pekan yang diumumkan Presiden Donald Trump. Waktu yang tersisa menjadi krusial. Tanpa kemajuan diplomatik, berakhirnya masa jeda tersebut berpotensi membuka kembali babak ketegangan yang lebih luas, tidak hanya bagi kawasan, tetapi juga bagi tatanan global.

Namun, apakah Amerika juga memandangnya secara sama? Di situlah titik persoalannya. Amerika datang ke Islamabad dengan delegasi yang diisi para pebisnis. Kerangka berpikir dan kerangka kerja mereka boleh jadi lebih didorong soal untung rugi secara kalkulasi bisnis. Sebaliknya, Iran mengirim delegasi yang mewakili hasrat rakyat Iran, yakni mengakhiri perang secara permanen, menyetop blokade ekonomi yang sudah berlangsung hampir lima dekade, dan memastikan tak ada lagi agresi suatu saat nanti.

Kegagalan perundingan itu semestinya menjadi refleksi bahwa perdamaian tidak pernah lahir dari sikap saling mengunci posisi. Ia menuntut kelenturan, keberanian berkompromi, dan kesadaran bahwa biaya konflik selalu jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan harga sebuah kesepakatan.

Amerika sudah merasakannya. Ia yang ingin menaklukkan Iran, gagal total. Ingin mengendalikan Selat Hormuz, ditentang para sekutu. Pertanyaan besarnya, apakah Trump mau mengakui kegagalan itu? Selat Hormuz kini bukan saja 'jalan sempit' bagi Amerika. Ia sudah menjelma menjadi jalan buntu.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)