Sekretaris Jenderal D-8, Sohail Mahmood membuka pekan produk halal D-8. Foto: Metrotvnews.com
Negara Muslim Masih Kalah Saing dalam Pasar Ekspor Halal Global
Fajar Nugraha • 8 July 2026 16:13
Jakarta: Organisasi Kerja Sama Ekonomi Delapan Negara Berkembang (D-8) menyoroti masih rendahnya kontribusi negara-negara Muslim dalam menangkap peluang rantai nilai dan perdagangan halal global.
Meski potensi pasar konsumen Muslim dunia sangat besar, posisi eksportir produk halal terbesar saat ini justru masih didominasi oleh negara-negara non-Muslim.
Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal D-8, Sohail Mahmood, dalam pesan video pada pembukaan D-8 Halal Expo Indonesia (HEI) 2026 di Jakarta. Berdasarkan data internasional terbaru, pengeluaran konsumen Muslim global telah mencapai sekitar USD 2,4 triliun pada tahun 2023 dan diproyeksikan bakal menembus USD3,3 triliun pada tahun 2028.
Menurut Mahmood, realitas ini menunjukkan bahwa tantangan utama yang dihadapi blok ekonomi hilir saat ini bukanlah masalah permintaan, melainkan masalah daya saing, integrasi, dan nilai tambah produk. Sembilan negara anggota D-8 dinilai belum optimal dalam mengonversi modalitas ekonomi mereka menjadi kekuatan ekspor yang terintegrasi.
"Masa depan ekonomi halal tidak hanya ditentukan oleh ukuran pasar atau permintaan konsumen. Ia akan menjadi milik mereka yang berinovasi, memproduksi, mensertifikasi, mendanai, mendigitalisasi, dan menghubungkan rantai nilai halal lintas pasar," tegas Mahmood.
Guna membalikkan keadaan tersebut, Mahmood menyodorkan tiga proposal taktis kepada negara anggota D-8. Pertama, pembentukan koridor dagang halal terintegrasi melalui harmonisasi standardisasi dan inter-operabilitas sertifikasi digital.
Kedua, pembangunan platform investasi dan marketplace digital untuk mempertemukan pelaku usaha kecil menengah (UKM) dengan investor global. Ketiga, investasi bersama pada riset teknologi masa depan, termasuk sistem pelacakan berbasis kecerdasan buatan (AI) dan blockchain di kawasan industri halal.
(Kelvin Yurcel)