Selat Hormuz Ditutup Kembali, Lalu Lintas Kapal Merosot Tajam

Selat Hormuz kini kembali ditutup oleh Iran. Foto: Xinhua

Selat Hormuz Ditutup Kembali, Lalu Lintas Kapal Merosot Tajam

Muhammad Reyhansyah • 13 July 2026 20:12

Teheran: Lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz kembali merosot hingga mendekati level terendah setelah Iran mengumumkan penutupan kembali jalur pelayaran strategis tersebut di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS).

Mengutip data perusahaan analitik Kpler yang diperoleh Anadolu menunjukkan, hanya 14 kapal komersial melintasi Selat Hormuz pada Minggu, 12 Juli 2026. 

Jumlah itu turun jauh dibandingkan rata-rata lebih dari 70 kapal per hari yang tercatat setelah kesepakatan antara AS dan Iran pada pertengahan Juni.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya menyatakan Selat Hormuz akan ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut. 

Iran menyebut jalur pelayaran itu baru akan dibuka kembali jika militer AS menghentikan operasinya di kawasan dan menghormati kedaulatan negara-negara pesisir.

IRGC juga mengklaim telah mencegat dua kapal yang berusaha melintas tanpa izin.

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melancarkan gelombang ketiga serangan terhadap Iran pekan ini setelah pasukan Iran melepaskan tembakan ke sebuah kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Sebelum perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran pecah pada 28 Februari, sekitar 130 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. 

Selama konflik berlangsung, jumlah tersebut sempat turun lebih dari 90 persen sebelum pulih setelah tercapainya nota kesepahaman antara Washington dan Teheran pada 14 Juni.

Namun, pemulihan itu kembali terhenti setelah Iran menutup jalur pelayaran tersebut. Data Kpler menunjukkan lalu lintas kapal telah menurun menjadi 20 kapal pada 10 Juli dan 24 kapal pada 11 Juli, sebelum kembali merosot menjadi hanya 14 kapal pada Minggu.

Laporan tersebut juga menyebut pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz kini didominasi ekspor Iran, sementara aktivitas perdagangan minyak dari negara lain melalui jalur tersebut mengalami penurunan tajam.

(Fajar Nugraha)