Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuter Line setelah bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nz/am.
Penyebab Tabrakan Kereta di Bekasi Timur Simpang Siur, Pakar: Tunggu Hasil KNKT
Muhamad Marup • 3 May 2026 11:44
Jakarta: Kecelakaan kereta di Bekasi Timur menyita perhatian publik. Opini terkait penyebab kejadian tersebut bermunculan termasuk di media sosial dan tidak jarang menjadi perdebatan.
Terkait penyebab kecelakaan di Bekasi Timur, Pakar perkeretaapian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sri Atmaja Putra Jatining Nugraha Nasir Rosyidi meminta publik menunggu hasil investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Menurutnya, spekulasi yang berkembang tidak boleh menjadi dasar penilaian sebelum ada data objektif.
Ia menyebut, hasil investigasi KNKT penting untuk mengungkap akar masalah (root cause) secara objektif, baik dari aspek teknis maupun sistemik. Apakah insiden disebabkan oleh faktor teknis, manusia, atau kegagalan sistemik, semuanya harus terungkap secara transparan.
"Hal ini penting agar seluruh pemangku kepentingan dapat melakukan perbaikan demi mencegah kejadian serupa di masa depan," ucap Sri Atmaja, mengutip laman resmi UMY, Minggu, 4 Mei 2026.
Perbaikan budaya dan sistem
Sri Atmaja menegaskan, bahwa perbaikan teknologi saja tidak cukup. Keselamatan perkeretaapian harus menjadi budaya yang mendarah daging, bukan sekadar sistem formal.Ia menekankan, bahwa keselamatan adalah kombinasi elemen teknologi, manajemen, serta faktor manusia. Tanpa budaya keselamatan yang kuat, sistem secanggih apa pun tetap berpotensi mengalami kegagalan fatal.
"Oleh karena itu, seluruh pihak mulai dari operator, regulator, hingga masyarakat harus memiliki kesadaran risiko yang tinggi," tuturnya.
Sri Atmaja menilai, selain aspek teknis, keterlibatan masyarakat dalam menjaga keamanan di perlintasan sebidang juga menjadi faktor penentu. Kesadaran kolektif inilah yang menjadi fondasi utama dalam menciptakan sistem transportasi publik yang aman.
"Jika budaya keselamatan sudah tertanam, maka sistem akan berjalan lebih efektif. Targetnya jelas: Zero Accident!" tegasnya.
Wilayah Jabodetabek jadi tantangan
Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/agr
Ia menambahkan, pentingnya penguatan sistem fail-safe untuk mencegah kegagalan kecil memicu kecelakaan besar. Prinsip ini menjamin bahwa kegagalan satu komponen tidak akan langsung memicu kecelakaan.
"Misalnya, melalui penerapan sistem interlocking dan pengereman berlapis sebagai langkah mitigasi risiko yang efektif," jelasnya.