Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)
Trump Tuduh Iran Bocorkan Draf Kesepakatan Palsu ke Media
Willy Haryono • 13 June 2026 09:56
Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh Iran membocorkan informasi yang tidak akurat kepada media terkait rancangan kesepakatan yang tengah dibahas kedua negara.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Jumat, Trump mengatakan rincian yang beredar di media tidak sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati secara tertulis.
"Ketentuan yang dibocorkan Iran kepada media sama sekali palsu dan tidak ada hubungannya dengan syarat-syarat yang telah disepakati secara tertulis," tulis Trump, seperti dilansir Anadolu, Sabtu, 13 Juni 2026.
Ia juga menepis pernyataan Iran yang mengindikasikan bahwa kesepakatan telah tercapai.
"Apa yang mereka katakan, termasuk pernyataan lemah dan menyedihkan tentang adanya kesepakatan, sama sekali tidak berkaitan dengan kenyataan," lanjutnya.
Trump kemudian menyebut pejabat Iran sebagai pihak yang tidak dapat dipercaya dalam proses negosiasi. "Mereka adalah orang-orang yang sangat tidak terhormat. Tidak ada yang namanya berunding dengan itikad baik dengan mereka," ujarnya.
Selain menyinggung proses negosiasi, Trump turut mengecam serangan drone terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz yang terjadi semalam.
Ia menyebut serangan tersebut "sama sekali tidak dapat diterima" dan mendesak Iran segera memperbaiki situasi.
Pernyataan Trump muncul setelah kantor berita resmi Iran, IRNA, mempublikasikan dokumen yang disebut sebagai memorandum draf tujuh poin terkait kesepakatan antara Teheran dan Washington.
Isi dokumen tersebut berbeda dengan kerangka kesepakatan yang sebelumnya dilaporkan media AS, Axios.
Menurut IRNA, Iran tidak akan menerima kewajiban nuklir baru dan tetap mempertahankan kewenangan penuh atas Selat Hormuz. Sementara itu, Axios sebelumnya melaporkan bahwa kerangka kesepakatan mencakup pengaturan stok uranium yang diperkaya Iran serta pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz tanpa pungutan biaya.
Sehari sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa bagian utama teks kesepakatan telah dirampungkan. Namun, Teheran juga menuduh Washington menghambat kemajuan negosiasi melalui sikap yang dinilai bertentangan.
Baca juga: Trump Klaim Perang dengan Iran Segera Berakhir, Teheran Beri Bantahan Keras