Dosen Program Magister Komunikasi Universitas Pelita Nusantara, Johanes Herlijanto, dalam acara di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026. (Metrotvnews.com)
Akademisi Soroti Lima Tantangan dalam Hubungan Indonesia-Tiongkok yang Kian Erat
Willy Haryono • 24 June 2026 14:18
Jakarta: Hubungan bilateral Indonesia dan Tiongkok dinilai sedang berada pada fase paling erat sepanjang sejarah.
Namun, di tengah pesatnya perkembangan kerja sama ekonomi, infrastruktur, hingga pertahanan, kedua negara diingatkan untuk tetap mengelola sejumlah isu sensitif yang berkaitan dengan kedaulatan, kepentingan nasional, dan persepsi publik.
Pandangan tersebut disampaikan Dosen Program Magister Komunikasi Universitas Pelita Nusantara, Johanes Herlijanto, dalam China–Indonesia Think Tank and Media Forum di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026.
Menurut Johanes, hubungan Indonesia dan Tiongkok mengalami perkembangan yang sangat signifikan sejak era Presiden Abdurrahman Wahid hingga pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini.
"Hubungan kedua negara saat ini telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, baik dalam bidang ekonomi maupun kerja sama strategis lainnya," ujar Johanes.
Kerja Sama Semakin Luas
Johanes menilai penguatan hubungan bilateral tidak lagi hanya terlihat dari investasi dan perdagangan, tetapi juga merambah sektor pertahanan.Ia mencontohkan sejumlah perkembangan terbaru seperti pelaksanaan Dialog 2+2 Indonesia-Tiongkok pada 2025, latihan militer bersama Sharp Knife, hingga pembahasan mengenai pengadaan alat utama sistem persenjataan dari Tiongkok.
Selain itu, kerja sama ekonomi terus berkembang melalui proyek-proyek strategis seperti hilirisasi industri nikel, operasional Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh, serta dukungan pembiayaan infrastruktur dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).
Meski demikian, Johanes mengingatkan adanya potensi kesalahpahaman terkait implementasi politik luar negeri Indonesia yang menganut prinsip bebas dan aktif.
Menurutnya, Indonesia sangat menjaga kemandirian dalam menentukan kebijakan nasional dan tidak ingin dianggap berada dalam pengaruh negara mana pun.
"Saya melihat ada potensi kesalahpahaman oleh Tiongkok terhadap upaya Indonesia untuk mengaktualisasikan status politik luar negerinya yang bebas dan aktif," katanya.
Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki sensitivitas tinggi terhadap segala bentuk intervensi eksternal yang dapat dipersepsikan mengurangi otonomi strategis negara.
Lima Tantangan yang Perlu Dikelola
Dalam pemaparannya, Johanes mengidentifikasi sedikitnya lima tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama untuk menjaga keberlanjutan hubungan bilateral.Pertama, persoalan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di sekitar Kepulauan Natuna serta dinamika yang berkaitan dengan Laut China Selatan.
Kedua, meningkatnya kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap bertambahnya jumlah pekerja migran asal Tiongkok di Indonesia.
Ketiga, isu lingkungan yang muncul di sejumlah kawasan industri dan pertambangan, terutama yang berkaitan dengan sektor hilirisasi mineral.
Keempat, kekhawatiran pelaku usaha domestik terhadap masuknya produk manufaktur impor dari Tiongkok yang dinilai menekan daya saing sebagian sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kelima, persoalan ketidakseimbangan perdagangan serta perubahan kebijakan ekonomi nasional yang dinilai sebagian pelaku usaha Tiongkok masih memerlukan kepastian dan komunikasi yang lebih baik.
Bangun Kepercayaan
Johanes menilai tantangan-tantangan tersebut tidak seharusnya menghambat hubungan kedua negara, melainkan menjadi agenda bersama yang perlu dikelola melalui dialog dan komunikasi yang terbuka.Menurutnya, fondasi utama bagi kemitraan jangka panjang Indonesia dan Tiongkok adalah rasa saling percaya serta penghormatan terhadap kepentingan nasional masing-masing pihak.
"Hubungan Tiongkok dan Indonesia telah meningkat secara signifikan, tetapi masih ada beberapa tantangan di kedua negara yang perlu kita atasi demi memperdalam hubungan ini lebih lanjut," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan Indonesia dan Tiongkok dalam mengelola berbagai isu sensitif tersebut akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kemitraan strategis kedua negara pada masa mendatang. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Menhan Ingatkan TNI Bersinegi dalam Menjaga Pertahanan Perbatasan Natuna