Konflik Iran vs AS Memanas Lagi, Rudal Hantam Pangkalan Militer Amerika

Iran meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain setelah Washington kembali menyerang Iran. (Anadolu Agency)

Konflik Iran vs AS Memanas Lagi, Rudal Hantam Pangkalan Militer Amerika

Willy Haryono • 28 June 2026 11:22

Teheran: Iran dan Amerika Serikat melanjutkan serangan mereka di kawasan Teluk, dan kedua pihak masing-masing menuduh pihak lain melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani kurang dari dua minggu lalu untuk mengakhiri perang mereka yang telah berlangsung selama empat bulan.

Dikutip dari AsiaOne, Teheran kembali melancarkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Minggu dini hari, 28 Juni 2026.

Serangan itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan Washington dapat kembali melakukan operasi militer terhadap Iran, di tengah saling tuding pelanggaran perjanjian damai sementara yang diteken kurang dari dua pekan lalu.

Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya dikerahkan untuk menghadapi serangan rudal dan drone. Sementara itu, sirene peringatan juga berbunyi di Bahrain.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan serangan gabungan rudal dan drone tersebut menyasar fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain sebagai respons atas serangan terbaru Washington terhadap Iran.

Seorang pejabat AS mengonfirmasi pangkalan militer negaranya menjadi sasaran serangan. Namun, hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan besar pada fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump memperingatkan AS dapat "menyelesaikan pekerjaan secara militer" apabila Iran terus melanggar kesepakatan gencatan senjata.

"Tidak menutup kemungkinan kami tidak lagi bisa bersikap masuk akal dan akan dipaksa menyelesaikan pekerjaan yang telah kami mulai dengan sangat sukses secara militer," tulis Trump melalui media sosial.

Kesepakatan Interim AS-Iran

Beberapa jam sebelum serangan Iran, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan serangan baru terhadap target-target militer Iran. Operasi tersebut dilakukan setelah sebuah kapal tanker berbendera Panama diserang drone Iran di Selat Hormuz.

Menurut CENTCOM, serangan tersebut merupakan respons langsung atas aksi Iran terhadap pelayaran komersial dan menargetkan fasilitas pengawasan militer, komunikasi, pertahanan udara, penyimpanan drone, serta instalasi penebar ranjau milik Iran.

Media pemerintah Iran melaporkan ledakan terdengar di wilayah Sirik, Iran selatan. IRGC menegaskan serangan AS tidak akan mengakhiri dominasi Iran di Selat Hormuz dan memperingatkan kapal-kapal yang dianggap melanggar akan menjadi sasaran berikutnya.

Perjanjian sementara antara AS dan Iran yang terdiri dari 14 poin sejatinya ditujukan untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung selama empat bulan, membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional, serta membuka jalan bagi perundingan mengenai program nuklir Iran.

Meski demikian, kedua negara saling menuduh telah melanggar kesepakatan tersebut. Iran menyatakan serangan terbaru AS telah mengakhiri seluruh proses diplomasi yang sedang berlangsung.

Selain ketegangan di Teluk, Iran juga menuduh AS gagal memenuhi komitmennya menjaga gencatan senjata di Lebanon. Di sisi lain, Israel dan Lebanon kembali menyepakati gencatan senjata yang dimediasi AS, namun bentrokan masih terus terjadi karena Israel belum menarik pasukannya dari sebagian wilayah Lebanon, sementara Hizbullah menolak melucuti senjata selama pasukan Israel masih berada di wilayah tersebut.

Baca juga: Bahrain Tuduh Iran Serang Wilayahnya dengan Drone, Desak DK PBB Bertindak

(Willy Haryono)