Guru Besar Ungkap Tiga Hal Fundamental Perjuangan RA Kartini

RA Kartini. Sumber Arsip Nasional

Guru Besar Ungkap Tiga Hal Fundamental Perjuangan RA Kartini

Muhamad Marup • 21 April 2026 15:40

Jakarta: Peringatan Hari Kartini 21 April bukan sekadar perayaan dengan berkebaya melainkan momentum refleksi realitas perjuangan perempuan. Pakar Sosiologi Gender sekaligus Guru Besar Universitas Airlangga (UNAIR), Emy Susanti, menilai, spirit pemikiran R.A. Kartini secara fundamental memperjuangkan tiga hal penting yakni pendidikan, pengentasan kemiskinan, dan kesehatan reproduksi perempuan.

"Ibu Kartini meninggal pada masa nifas yang masuk dalam Angka Kematian Ibu. Sejak lama beliau berjuang untuk kesehatan perempuan, memerangi kebodohan, dan kemiskinan," ucap Emy, mengutip laman resmi Unair, Selasa, 21 April 2026.

Ia menjelaskan, pemerintah memiliki program Pengarusutamaan Gender. Namun, terkadang eksekusinya terbentur dengan banyak hal, sehingga masyarakat sipil perlu memberdayakan diri sendiri.

Emy mengajak generasi muda tidak bergantung sepenuhnya pada pemerintah. Menurutnya, sosok Kartini harus diteladani dengan terus memperkuat jejaring menghadapi zaman.

"Jangan ada kompetisi tidak sehat, mari bergandengan tangan bersama, dengan meneladani Ibu Kartini harapannya kita bisa survive dalam menghadapi tantangan apa pun,” jelasnya.

Otonomi sebagai indikator utama kesetaraan perempuan

Emy menuturkan, peningkatan pendidikan formal bagi perempuan bukanlah satu-satunya parameter keberhasilan. Indikator sejati kesetaraan adalah keberdayaan seutuhnya sebab kemajuan pendidikan seakan tiada arti jika otonominya justru dikesampingkan.

"Yang sebetulnya harus dicapai itu keberdayaan perempuan. Perempuan harus bisa punya agenda hidup sendiri tanpa paksaan dan penuh dengan kesadaran," katanya.

Ia menerangkan, pendidikan bukan sekadar gelar melainkan pembentukan kesadaran. Kepintaran formal tidak berarti jika perempuan masih hidup dalam tekanan atau disetir lingkungan sekitarnya karena keberdayaan sejati menuntut kebebasan penuh dalam menentukan pilihan hidup.

“Pendidikan formal itu penting, namun yang esensial adalah perempuan menjadi berdaya. Ia memiliki otonomi atas hidupnya, tidak tertekan, atau dipaksa. Ia berhak menentukan sendiri agendanya apakah lanjut sekolah, bekerja, menikah, atau memiliki anak. Kemandirian inilah esensi keberdayaan sejati,” terangnya.

Ilustrasi Pexels

Beban berlapis

Emy melanjutkan, di tengah himpitan ekonomi beban perempuan kini menjadi beban berlapis atau multi burden. Saat krisis, perempuan sering mengambil alih peran pencari nafkah yang membuktikan ketangguhannya memikul tanggung jawab ekstra.

"Siapa pun itu perempuan pasti punya multi burden (beban ganda) karena masyarakat menempatkan peran domestik padanya," tuturnya.

Perempuan, kata Emy, mampu bertahan dari krisis ekonomi berkat kuatnya ikatan sosial mereka. Tradisi saling peduli antartetangga hingga berbagi tugas pengasuhan anak menjadi pertahanan komunal yang luar biasa tangguh untuk saling menguatkan.

"Perempuan itu sangat tinggi solidaritas dan jaringan sosialnya, terutama dengan sesama perempuan," ucapnya.w

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)