Dinkes Bantul Gencarkan Imunisasi Rutin Demi Kendalikan Penularan Campak

Ilustrasi campak. (Freepik)

Dinkes Bantul Gencarkan Imunisasi Rutin Demi Kendalikan Penularan Campak

Silvana Febiari • 23 April 2026 17:19

Bantul: Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggencarkan imunisasi rutin terhadap anak usia satu bulan, 18 bulan, dan siswa kelas satu sekolah dasar (SD). Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengendalikan penularan penyakit campak.

"Sehubungan dengan meningkatnya kasus campak, saat ini sedang dilakukan program imunisasi kejar campak di Kabupaten Bantul," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bantul Samsu Aryanto, dilansir dari Antara, Kamis, 23 April 2026. 

Menurut dia, kegiatan imunisasi campak saat ini telah dilakukan selama dua kali di 27 pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) se- Bantul. Pada tahap pertama, imunisasi menyasar 440 orang, dengan capaian 404 orang telah mendapatkan imunisasi.
 


"Sedangkan imunisasi tahap dua menyasar 531 orang dengan cakupan 499 orang. Jadi, kegiatan imunisasi kejar campak masih berjalan, sehingga masih memungkinkan persentase capaian meningkat," ungkapnya.

Menurut dia, cakupan imunisasi campak di layanan kesehatan Bantul rata-rata telah mencapai lebih dari 90 persen. Capaian ini tidak terlepas dari sosialisasi yang terus dilakukan Dinas Kesehatan Bantul kepada masyarakat.

Selain itu, kata dia, instansi ini juga melakukan kolaborasi lintas pemangku kepentingan wilayah dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait manfaat imunisasi.

"Jadi kolaborasi dengan kapanewon (kecamatan), polsek (kepolisian sektor), koramil, KUA (kantor urusan agama), kelurahan, dukuh, kader, tokoh agama, tokoh masyarakat," ucapnya.


Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta (ANTARA/Hery Sidik)


Saat ini, kasus campak di Bantul tercatat 44 kasus, yang tersebar di beberapa kecamatan. Di antaranya Kecamatan Piyungan, Dlingo, Sedayu, Kasihan, Banguntapan, Pleret, Sewon, Bantul, Pandak, Srandakan, Imogiri, Jetis, dan Pajangan.

"Wilayah kecamatan dengan kasus paling banyak di Banguntapan berjumlah 13 kasus," ujarnya.

Meski tidak ada laporan meninggal dunia karena kasus campak, namun Dinkes mengimbau masyarakat yang mengalami gejala campak seperti demam, batuk, pilek, dan muncul ruam kemerahan agar segera melakukan pengobatan.

Selain itu, kata dia, masyarakat diimbau menghindari kontak dengan penderita campak. Tujuannya untuk mencegah penularan.

"Kemudian jaga kesehatan, konsumsi gizi seimbang, dan bisa melapor ke petugas puskesmas akan kita tindak lanjuti," imbaunya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)