Kabut Asap Karhutla Selimuti Bandara Syamsudin Noor Kalsel, Enam Penerbangan Tertunda

Para penumpang pesawat udara saat berada di gedung terminal keberangkatan Bandara Internasional Syamsudin Noor. (ANTARA/Firman)

Kabut Asap Karhutla Selimuti Bandara Syamsudin Noor Kalsel, Enam Penerbangan Tertunda

Denny S • 21 July 2026 09:16

Banjarbaru: Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kawasan Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarbaru turut terdampak, dengan jarak pandang yang menurun drastis dan sejumlah jadwal penerbangan mengalami penundaan.

Menurut data dari Angkasa Pura Syamsudin Noor, enam jadwal penerbangan mengalami keterlambatan pada Senin, 20 Juli 2026 pagi, akibat jarak pandang yang sangat terbatas, yakni sekitar 1.000 meter. Penundaan rata-rata berlangsung sekitar satu jam dari jadwal semula.

Pada Selasa, 21 Juli 2026, jarak pandang terpantau membaik meskipun kabut asap masih menyelimuti kawasan bandara. Penerbangan dilaporkan berjalan normal dan sesuai jadwal.
 


Jarak Pandang Turun Drastis

General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional Syamsudin Noor, Stephanus Millyas Wardana, mengonfirmasi penurunan kualitas udara berdampak langsung pada operasional bandara antara pukul 06.00 hingga 07.00 Wita.

"Jarak pandang di bandara mengalami penurunan drastis, dari yang biasanya 2.000 meter menjadi kurang lebih hampir 1.000 meter. Berdasarkan laporan tim kami, ada sekitar enam pesawat yang mengalami penundaan keberangkatan pada Senin (20/7) kemarin. Untuk hari ini Selasa (21 Juli), penerbangan kembali normal," ujar Stephanus Millyas Wardana, Selasa, 21 Juli 2026.


Pesawat Cesna untuk operasi modifikasi cuaca (OMC). Foto: BPBD Kalsel.

Kabut asap yang telah berlangsung beberapa pekan terakhir ini juga menurunkan kualitas udara di Kota Banjarbaru dan sekitarnya. Berdasarkan pantauan, asap mulai turun menjelang tengah malam, semakin pekat pada dini hari hingga subuh, dan mulai menghilang menjelang siang.

Wilayah yang terdampak paling parah antara lain Kecamatan Landasan Ulin dan Kecamatan Liang Anggang. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu gangguan kesehatan masyarakat, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

(Whisnu M)