Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Foto: Press TV
Menlu Iran: AS Salah Kakulasi, Serangan ke Pangkalan Ubah Struktur Keamanan Regional
Fajar Nugraha • 20 July 2026 09:39
Teheran: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa serangan militer balasan yang diluncurkan pasukannya terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah telah mengubah struktur keamanan regional secara fundamental.
Araghchi memaparkan secara terperinci mengenai dinamika negosiasi dengan AS, perang yang dipaksakan oleh koalisi AS-Israel sejak akhir Februari lalu, serta langkah respons militer yang diambil oleh pihak Teheran.
Ia mengungkapkan bahwa negara-negara di kawasan sebelumnya tidak mengantisipasi kapabilitas Iran untuk melancarkan serangan presisi ke berbagai target di seluruh wilayah tanpa mampu dibalas secara efektif oleh pihak lawan.
"Kawasan tidak percaya bahwa kami akan menyerang di seluruh wilayah dan bahwa mereka tidak akan mampu merespons. Ini merupakan perkembangan besar yang terjadi dan mengubah struktur keamanan kawasan," ujar Araghchi, seperti dikutip Press TV, pada Senin, 20 Juli 2026.
Ia menegaskan bahwa pihak Iran sama sekali tidak terdadak oleh agresi militer AS-Israel dan telah menyiagakan jajaran pasukannya untuk menghadapi seluruh potensi skenario konflik. Diplomat senior Iran tersebut menjelaskan bahwa proses negosiasi dengan AS sebelum pecahnya perang berpusat pada tuntutan persisten Washington mengenai pengayaan uranium nol, di mana Washington terus menekan Teheran untuk patuh atau menghadapi konsekuensi aksi militer.
Ia mencatat bahwa para pejabat tinggi Iran pada akhirnya memutuskan untuk tetap terlibat dalam sesi negosiasi dengan AS demi menutup celah narasi diplomasi. "Agar tidak ada yang bisa mengatakan di kemudian hari, 'Jika Anda bernegosiasi, perang tidak akan terjadi,'" jelas Araghchi.
Araghchi mengaku bahwa dirinya bersama jajaran angkatan bersenjata Iran sebenarnya telah meyakini bahwa perang tetap akan terjadi. Namun, proses perundingan tersebut dinilai perlu dilalui agar pihak lawan berpeluang mundur dari tuntutan zero enrichment, atau setidaknya memberikan justifikasi hukum yang kuat bagi langkah Iran selanjutnya.
Araghchi menolak anggapan bahwa jalur diplomasi dan perundingan justru menjadi pintu masuk atau pemicu timbulnya perang, serta menegaskan bahwa pihak lawan pada dasarnya telah menetapkan serangkaian target khusus terhadap Iran. "Itu bukan keputusan saya. Ada keputusan dari pihak sebelah untuk mencapai tujuan tertentu terkait Iran, dan kami mencoba mengarahkan mereka ke jalur lain selain perang," tambah Araghchi.
Ia menyebutkan bahwa keputusan untuk bernegosiasi merupakan hasil kesepakatan kolektif. Araghchi menekankan bahwa akar dari perang ini bermula dari persepsi keliru para musuh yang menganggap Iran telah melemah serta kehilangan kapabilitas daya tangkal di kawasan pasca-perkembangan situasi politik di Lebanon dan Suriah.
Menlu Iran tersebut menegaskan kembali bahwa pihak musuh berasumsi Iran bakal bergerak menuju pengembangan daya tangkal nuklir penuh, yang kemudian memicu upaya sistematis mereka untuk menghancurkan kapabilitas nuklir Teheran sebelum hal itu terealisasi.
"Rezim Israel telah membentuk persepsi bahwa Iran telah menjadi lemah, dan waktunya sudah matang untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut," papar Araghchi.
Ia menambahkan bahwa penolakan tegas Iran terhadap tuntutan *zero enrichment* yang dinilai tidak sah dan tidak rasional pada akhirnya mendorong pihak lawan untuk meninggalkan meja perundingan dan beralih ke agresi militer. "Ketika mereka melihat tidak dapat mencapai tujuannya melalui negosiasi, mereka memulai perang," tegas Araghchi.
Diplomat ulung Teheran itu menjelaskan lebih lanjut bahwa pihak musuh kembali melakukan salah kalkulasi pasca-perang 12 hari pada Juni 2025 dengan meremehkan daya tahan serta ketahanan nasional Iran. Bukannya meningkatkan kesiapsiagaan taktis, pihak musuh dinilai hanya memperluas persenjataan dan amunisi militer mereka sembari berharap bahwa serangan militer singkat dari Israel akan menghancurkan seluruh fasilitas serta memaksa Iran untuk tunduk.
"Semua persepsi tersebut keliru," tegas sang Menlu. Menurut Araghchi, pertempuran akhirnya terhenti karena pihak musuh tidak siap menghadapi perang berkepanjangan dan menyaksikan secara langsung soliditas dukungan rakyat Iran terhadap negaranya.
Ia menambahkan bahwa pihak Israel telah meyakinkan pemerintah Amerika Serikat bahwa sanksi ekonomi, tekanan regional, dan berbagai faktor lainnya telah menempatkan Iran pada posisi yang sangat rentan. "Analisis yang salah ini disampaikan kepada (Presiden AS Donald) Trump," tutur Araghchi, sembari mencatat bahwa kemarahan Trump di publik setelahnya menjadi bukti nyata dari kegagalan analisis tersebut.
Sebagai informasi, pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel memprakarsai perang berskala besar tanpa provokasi terhadap Iran, yang berujung pada gugurnya Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Seyyed Ali Khamenei beserta beberapa komandan militer tingkat tinggi.
Sebagai respons balasan, angkatan bersenjata Iran melancarkan serangkaian operasi rudal drone secara bertubi-tubi terhadap aset militer AS dan Israel selama lebih dari 40 hari yang menimbulkan kerusakan signifikan di pihak lawan.
(Kelvin Yurcel)