Arab Saudi dan Houthi Saling Serang, 1 Warga Yaman Dilaporkan Tewas

Pemberontak Houthi di Yaman. Foto: EFE-EPA

Arab Saudi dan Houthi Saling Serang, 1 Warga Yaman Dilaporkan Tewas

Fajar Nugraha • 18 September 2026 08:59

Kairo: Arab Saudi dan kelompok pemberontak Houthi Yaman yang kembali saling melancarkan serangan lintas batas pada Kamis 17 September 2026.

Sementara warga Yaman menggunakan perahu di Laut Merah untuk melarikan diri dari pertempuran, di tengah meluasnya konflik Timur Tengah yang menimbulkan ancaman baru bagi pasokan minyak global.

Televisi yang dikuasai Houthi melaporkan adanya serangan udara Saudi di Provinsi Hajjah yang berbatasan dengan Arab Saudi di dekat pantai Laut Merah serta di sekitar wilayah Taiz yang terletak lebih jauh ke pedalaman di selatan.

“Seorang warga Yaman yang tinggal di negara itu tewas akibat puing-puing pesawat nirawak (drone) yang dicegat di atas kota Taif di wilayah barat,” pernyataan Dinas Pertahanan Sipil Arab Saudi, seperti dikutip dari AsiaOne, Jumat 18 September 2026.

Ini merupakan kematian pertama yang diumumkan Riyadh dalam serangkaian serangan Houthi sejak pertempuran meningkat pekan lalu. Sebelumnya, pihak berwenang melaporkan lebih dari 80 orang terluka.

Angkatan Laut Garda Revolusi Iran melaporkan bahwa sebuah kapal tanker minyak berbendera Togo terbakar setelah terkena serangan saat mencoba melakukan apa yang mereka sebut sebagai 'pelayaran ilegal' melintasi Selat Hormuz. Kapal tanker tersebut berhenti bergerak setelah kebakaran terjadi, demikian pernyataan Angkatan Laut Garda Revolusi.

Meluasnya konflik hingga ke Yaman dan Arab Saudi telah memicu kekhawatiran baru mengenai pasokan minyak, karena mengancam jalur alternatif utama Laut Merah bagi ekspor negara-negara Teluk, sementara lalu lintas melalui Selat Hormuz masih terhambat.

Presiden AS Donald Trump menolak permintaan bantuan militer dari Arab Saudi untuk memerangi Houthi. Pemberontak Houthi sendiri adalah kelompok yang sebelumnya menyepakati gencatan senjata dengan Amerika Serikat tahun lalu setelah Washington membombardir mereka selama dua bulan.

Sang presiden menghadapi risiko kerugian politik bagi Partai Republik dalam pemilihan umum sela November, sebagian disebabkan oleh kenaikan harga energi sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada Februari.

Pada Kamis, Trump menyatakan bahwa ia sedang menghadapi titik krusial terkait keputusan apakah akan kembali melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran.

"Saya akan menghadapi keputusan besar. Apakah saya ingin masuk dan memusnahkan mereka atau tidak? Ini keputusan besar. Apa pun bisa saja terjadi," ujar Trump dalam wawancara dengan Axios.

Di masa lalu, Trump pernah melontarkan ancaman serangan besar baru yang pada akhirnya tidak pernah terealisasi.

Harga minyak mentah global sedikit melandai pada hari Kamis namun tetap bertahan jauh di atas angka $100 per barel, setelah sebelumnya mencapai level tertinggi sejak bulan Mei. Harga rata-rata eceran solar di AS mencapai rekor tertinggi pada hari Kamis, mendekati angka USD6,40 atau sekitar Rp113 ribu per galon.

Amerika Serikat dan Iran belum melakukan negosiasi untuk mengakhiri perang sejak kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni gagal hanya dalam hitungan minggu. Namun, isu perang ini akan dibahas dalam Sidang Majelis Umum PBB pekan depan, dan delegasi Iran dapat hadir, menurut Departemen Luar Negeri AS.


'Laut itu menakutkan'

Pertempuran telah memaksa warga sipil Yaman melarikan diri melintasi Bab el-Mandeb yang dalam bahasa Arab berarti "Gerbang Air Mata"—sebuah selat sempit di mulut Laut Merah.

Di Djibouti, yang terletak di pesisir Afrika di tepi Laut Merah, Wahida Omer (50 tahun) berhasil mencapai daratan setelah menyeberang menggunakan perahu kecil dari Yaman. Ia melarikan diri saat desanya, Dhubab, diserang ketika kelompok Houthi merangsek masuk ke wilayah tersebut. Suaminya tertinggal di sana, dan ia tidak tahu apakah suaminya masih hidup, tewas, atau ditawan oleh Houthi.

"Laut itu menakutkan dan berat," ujarnya dalam sebuah wawancara yang direkam oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM). Orang-orang di atas perahu "menangis sepanjang perjalanan, dan kami tiba dalam keadaan masih menangis" tanpa membawa makanan apa pun.

IOM menyatakan bahwa lebih dari 100.000 warga Yaman telah mengungsi akibat pertempuran terbaru ini, dengan sebagian besar pengungsian terjadi di dalam wilayah Yaman sendiri.

Kelompok Houthi, yang telah menguasai seluruh pesisir Laut Merah Yaman sejak pekan lalu melalui serangan kilat, menyatakan bahwa Angkatan Udara Arab Saudi telah melancarkan ratusan serangan udara dalam beberapa hari terakhir. Pada Rabu, Houthi mengklaim telah menembak jatuh sebuah jet tempur F-15 milik Arab Saudi.

"Kami ingin pihak Saudi menghentikan blokade dan pendudukan atas negara kami, serta menghentikan agresi mereka terhadap kami. Inilah tuntutan kami!" ujar pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, dalam pidato yang disiarkan televisi, sembari duduk dengan belati tradisional terselip di ikat pinggangnya. Slogan-slogan di dinding di belakangnya berbunyi: "Mati bagi Amerika, mati bagi Israel, laknat bagi kaum Yahudi, kemenangan bagi Islam."

Angkatan Laut AS berupaya memandu kapal-kapal melintasi Selat Hormuz -,jalur keluar menuju Teluk di sepanjang pesisir Iran, tempat seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melintas sebelum perang pecah,- sekaligus menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Iran menyatakan bahwa selat tersebut ditutup dan akan tetap tertutup hingga Washington mencabut blokade. Iran sedang mengupayakan kesepakatan dengan negara-negara tetangga di kawasan Teluk yang memungkinkannya memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.

(Fajar Nugraha)