Pejalan kaki melewati layar yang menampilkan informasi pasar saham di Tokyo, Jepang. Foto: Xinhua/Yue Chenxing.
Saham Asia Menguat, Teknologi Jadi Penopang Pasar
Husen Miftahudin • 17 August 2026 12:59
Tokyo: Mayoritas saham Asia menguat pada perdagangan Senin, 17 Agustus 2026. Penguatan terutama ditopang saham sektor teknologi seiring berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Investor juga mencermati data ekonomi terbaru Tiongkok serta perkembangan konflik di sekitar Selat Hormuz yang masih memengaruhi pasar energi.
Mengutip Investing.com, indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,2 persen. Namun, indeks TOPIX yang lebih luas turun 0,6 persen.
Di Tiongkok, indeks Shanghai Shenzhen CSI 300 dan Shanghai Composite sama-sama menguat 0,8 persen. Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong melonjak 1,5 persen.
Bursa saham Korea Selatan tidak diperdagangkan karena libur nasional. Indeks MSCI Asia Pacific secara umum bergerak stabil. Penguatan saham Jepang tetap bertahan meskipun data pertumbuhan ekonomi negara tersebut berada di bawah ekspektasi pasar.
Ekonomi Jepang tumbuh 1,1 persen secara tahunan pada kuartal II 2026, lebih rendah dari perkiraan 2 persen. Perlambatan tersebut dipengaruhi konsumsi swasta yang turun untuk pertama kalinya dalam delapan kuartal serta kontraksi investasi bisnis.
Ekspor masih memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi Jepang, terutama berkat permintaan kendaraan hibrida dan pengiriman terkait semikonduktor yang mendapat manfaat dari perkembangan industri kecerdasan buatan (AI).
Saham teknologi jadi penopang pasar
Sektor teknologi menjadi salah satu pendorong utama bursa Jepang. Saham Kioxia Holdings melonjak 7,6 persen, sedangkan LARGAN Precision menguat 10 persen. TDK juga naik 0,12 persen.
Penguatan saham teknologi turut terlihat di pasar Tiongkok. Cambricon Technologies melonjak 5 persen, Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC) naik 7,1 persen, dan Foxconn Industrial Internet menguat 1,4 persen.
Alibaba menjadi perhatian investor setelah muncul laporan perusahaan tersebut tengah mempertimbangkan penjualan divisi gim Lingxi Games. Transaksi tersebut disebut dapat memberikan valuasi lebih dari USD1,5 miliar.
Pelaku pasar juga mengambil posisi menjelang rilis data aktivitas ekonomi Tiongkok untuk Juli. Ekonom memperkirakan pertumbuhan produksi industri Tiongkok melambat menjadi 4,8 persen dari 5,3 persen. Sementara itu, penjualan ritel diperkirakan tumbuh 1,5 persen.
Data tersebut menjadi perhatian investor untuk melihat perkembangan aktivitas ekonomi Tiongkok dan arah pemulihan permintaan domestik.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan saham pada IHSG. Foto: Medcom.id)
Bursa Australia tertekan
Berbeda dengan mayoritas pasar Asia, indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,4 persen. Pergerakan saham di bursa tersebut dipengaruhi sejumlah laporan keuangan perusahaan.
Saham JB Hi-Fi mengalami tekanan setelah perusahaan ritel tersebut melaporkan kinerja penjualan Juli yang lebih lemah serta prospek yang lebih suram.
Sementara itu, laba tunai National Australia Bank (NAB) naik sekitar 2 persen menjadi AUD1,83 miliar. Namun, bank tersebut mencatat penurunan aktivitas sektor perumahan, termasuk melemahnya permohonan pinjaman rumah dan pinjaman investor.
Di pasar Asia lainnya, indeks Nifty 50 India bergerak relatif stabil. Sementara itu, indeks FTSE Straits Times Singapura turun 0,6 persen.