Kebutuhan gizi dan trauma anak pascapemulihan gempa NTT perlu jadi perhatian. Foto: dok Danone Indonesia.
Pemulihan Anak Pascagempa NTT Butuh Dukungan Gizi dan Pendampingan Psikologis
Ade Hapsari Lestarini • 2 September 2026 22:25
Jakarta: Pemulihan anak setelah bencana gempa bumi tidak hanya membutuhkan pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga dukungan psikologis dan asupan gizi yang memadai. Pendampingan secara berkelanjutan diperlukan agar anak dapat kembali merasa aman dan menjalani aktivitas sehari-hari.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menilai perempuan dan anak merupakan kelompok yang membutuhkan perhatian khusus dalam situasi bencana. Selain tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari, keberadaan ruang aman serta pendampingan psikososial menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.
Menteri PPPA Arifah Fauzi mengatakan pemulihan trauma pada anak tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Pendampingan perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan tenaga profesional, termasuk psikolog.
"Trauma healing tidak dapat dilakukan hanya sekali atau dua kali. Sehingga diperlukan pendampingan jangka panjang dengan melibatkan psikolog," ujar Arifah dalam kunjungannya ke sejumlah lokasi terdampak gempa di Manggarai Barat dan Manggarai pada 24-25 Agustus 2026, dikutip dalam keterangan tertulis, Rabu, 2 September 2026.
Dalam kunjungan tersebut, pemerintah meninjau sejumlah lokasi terdampak, termasuk rumah shelter, posko masyarakat, fasilitas pendidikan, serta rumah sakit. Rombongan juga melihat kondisi perempuan dan anak yang masih menjalani masa tanggap darurat.
Psikolog anak Seto Mulyadi mengatakan pengalaman menghadapi bencana dapat menimbulkan rasa takut dan ketidakpastian bagi anak. Karena itu, lingkungan yang memberikan rasa aman perlu kembali dibangun selama proses pemulihan.
Selain pendampingan psikologis, pemenuhan kebutuhan gizi juga menjadi perhatian. Anak-anak tetap membutuhkan asupan nutrisi dan hidrasi yang memadai untuk menjaga kesehatan serta mendukung tumbuh kembang selama berada dalam kondisi darurat.

Kebutuhan gizi dan trauma pascapemulihan gempa NTT perlu jadi perhatian. Foto: dok Danone Indonesia.
Kolaborasi berbagai pihak atasi pemulihan pascabencana
Dukungan terhadap kebutuhan dasar masyarakat terdampak kemudian dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah, organisasi kemanusiaan, masyarakat, dan dunia usaha. Salah satunya melalui penyaluran bantuan hidrasi dan nutrisi yang dikoordinasikan bersama Kemen PPPA berdasarkan kebutuhan di lapangan.
Danone Indonesia menjadi salah satu pihak yang turut menyalurkan bantuan melalui sejumlah jalur pemerintah dan kemanusiaan. Bantuan juga disalurkan melalui Palang Merah Indonesia (PMI), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), serta mitra lokal di wilayah terdampak.
General Secretary Director Danone Indonesia, Agung Laksamana, mengatakan dalam situasi bencana, kepedulian dan kebersamaan menjadi kekuatan penting untuk membantu masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.
"Ketika saudara-saudara kita menghadapi bencana, kita semua adalah bagian dari Indonesia yang sama. Dalam situasi seperti ini, yang terpenting adalah bagaimana kita dapat bergotong royong dan mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing. Danone Indonesia mendukung upaya Kemen PPPA bersama pemerintah daerah dan berbagai mitra untuk membantu masyarakat terdampak, khususnya perempuan dan anak," ujar Agung.
Dalam rangkaian kegiatan bersama Kemen PPPA, Danone Indonesia turut menyediakan dukungan hidrasi dan nutrisi untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak. Dukungan tersebut disalurkan melalui koordinasi dengan Kemen PPPA berdasarkan kebutuhan di lapangan.
Secara keseluruhan, sekitar 5.000 karton produk hidrasi dan nutrisi telah disalurkan secara bertahap kepada masyarakat terdampak melalui berbagai mitra. Penyaluran dilakukan dengan mempertimbangkan koordinasi dan kebutuhan di lapangan.
Upaya tersebut menjadi bagian dari respons bersama dalam membantu masyarakat melewati masa tanggap darurat sekaligus mempersiapkan proses pemulihan. Bagi anak-anak, proses tersebut mencakup pemenuhan kebutuhan dasar, tersedianya ruang yang aman, serta dukungan psikologis agar mereka dapat kembali beraktivitas secara bertahap.
Kemen PPPA bersama pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait juga terus memantau perkembangan kebutuhan masyarakat terdampak, khususnya perempuan dan anak, selama proses pemulihan pascabencana.