Erupsi Anak Krakatau: Hujan Abu Guyur Serang, Warga Keluhkan Mata Perih

Ilustrasi Gunung Anak Krakatau. Foto: dok. Antara.

Erupsi Anak Krakatau: Hujan Abu Guyur Serang, Warga Keluhkan Mata Perih

Lukman Diah Sari • 6 September 2026 02:33

Serang: Hujan abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda melanda kawasan pesisir Kabupaten Serang, Banten, pada Sabtu malam, 5 September 2026. Warga mengeluhkan mata perih hingga mengganggu aktivitas belajar mengajar di sekolah.

Sanan, 42, warga Kampung Pasauran Satu, Desa Umbul Tanjung, Kecamatan Cinangka, mengatakan paparan abu vulkanik mulai dirasakan menebal di sekitar permukiman warga sejak pukul 17.00 WIB.

"Dari jam lima sore mulai banyak debu. Saya bawa motor di jalan mata pada sakit kalau tidak pakai helm. Ke badan juga menempel debunya, membuat tidak nyaman. Bahkan di depan rumah saya sudah banyak debu yang menempel di lantai," kata Sanan ditemui di Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Kabupaten Serang, Sabtu malam, 5 September 2026. melansir Antara.


Warga tujukan abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu malam. (ANTARA/Desi Purnama Sari)

Sanan menambahkan, rentetan suara gemuruh dan getaran yang tidak kunjung berhenti sejak Jumat malam, 4 September 2026. Hal itu mendorong dirinya berinisiatif mendatangi langsung Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Pasauran untuk memastikan kondisi gunung tersebut.

Kekhawatiran serupa turut dirasakan oleh Kepala SDN Pasir Menteng, Kecamatan Cinangka, Ajat Sudrajat. Dia pun mendatangi Pos PGA Anak Krakatau malam itu untuk memastikan secara langsung status dan kondisi gunung untuk mendapatkan informasi valid yang akan disampaikan kepada para siswa dan wali murid di sekolah.

"Di perjalanan, kalau keadaan tidak memakai masker itu sudah lumayan sakit ke tenggorokan, kemudian mata juga perih kalau tidak pakai kacamata. Walaupun kita tidak terlihat jelas di udara, tapi debu-debunya di pos pemantauan Krakatau ini kelihatan menumpuk," ujarnya.

Lebih lanjut, Ajat menuturkan bahwa getaran dan dentuman erupsi ini sebenarnya dianggap sebagai fenomena biasa oleh sebagian besar warga Pasauran. Namun, kata dia, ada sebagian warga yang berinisiatif untuk mengamankan diri.

"Masyarakat itu masih aman-aman saja karena hal-hal ini sudah biasa dan alami di warga Pasauran. Tetapi memang ada beberapa warga yang berinisiatif mengamankan dirinya sendiri ke daerah pegunungan," katanya.

(Lukman Diah Sari)