Preview AS vs Bosnia Pochettino Waspadai Agresivitas The Dragons

Folarin Balogun. (Instagram/@balogun)

Preview AS vs Bosnia Pochettino Waspadai Agresivitas The Dragons

Whisnu Mardiansyah • 1 July 2026 16:12

Jakarta: Tim nasional Amerika Serikat menjadi tuan rumah terakhir yang bermain di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Dua tuan rumah lainnya, Kanada dan Meksiko, sudah lebih dulu bermain dan memastikan langkah ke babak 16 besar.

Kanada menjadi tuan rumah pertama yang lolos setelah mengalahkan Afrika Selatan 1-0 pada Senin, 29 Juni kemarin. Sementara Meksiko menyusul ke babak berikutnya setelah menekuk Ekuador 2-0 pada Rabu, 1 Juli 2026.

Melansir Antara, AS berambisi mengikuti jejak Kanada dan Meksiko di edisi tahun ini. Tim asuhan Mauricio Pochettino akan menghadapi Bosnia dan Herzegovina pada Kamis, 2 Juli pukul 07.00 WIB di Stadion San Francisco Bay Area.

The Stars and Stripes tampil impresif di fase grup dengan mengalahkan Paraguay dan Australia. Namun, pada laga terakhir, mereka harus menyerah dalam pertandingan dramatis dengan skor 2-3 dari Turki setelah memainkan tim yang banyak dirotasi.

Sementara itu, Bosnia dan Herzegovina memastikan tempat di putaran final setelah menyingkirkan juara dunia empat kali, Italia, pada babak play-off zona Eropa.

Di fase grup, The Dragons mengumpulkan empat poin dari hasil imbang melawan Kanada, kalah dari Swiss, dan menang atas Qatar. Raihan tersebut cukup membawa mereka lolos sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik.

Secara pengalaman, AS tentu lebih unggul dari Bosnia dan Herzegovina yang baru memainkan Piala Dunia keduanya setelah debut pada 2014 yang berakhir di babak grup. Jika Bosnia dan Herzegovina baru pertama kali menginjakkan kaki di fase gugur, AS sudah merasakan fase ini dalam tujuh edisi berbeda, dengan babak 16 besar menjadi capaian terakhir mereka pada Piala Dunia 2022.

 

 

Head to Head

Laga nanti akan menjadi pertemuan pertama AS dengan Bosnia dan Herzegovina di panggung Piala Dunia. Sebelumnya, kedua tim sudah tiga kali bertemu pada laga persahabatan sejak 2013, dengan AS tidak terkalahkan melalui dua kemenangan dan satu hasil seri.

Pada 2013, pertemuan pertama berakhir dengan drama tujuh gol untuk kemenangan AS 4-3 yang diwarnai hattrick Jozy Altidore. Pertemuan kedua pada 2018 berakhir imbang 0-0, lalu pertemuan terakhir pada 2021 kembali dimenangkan AS dengan skor 1-0 lewat gol tunggal Cole Bassett di menit akhir.

AS bertekad memetik kemenangan pertama di babak gugur sejak edisi 2002. Namun, Pochettino menyadari misi itu tidak mudah karena Bosnia dan Herzegovina bukan lawan yang bisa dianggap remeh.

"Bosnia dan Herzegovina adalah tim yang sangat kompetitif, agresif, kuat secara fisik, dan juga sangat terorganisasi. Selain itu, mereka memiliki pelatih yang sangat bagus," ujar Mauricio Pochettino, dikutip dari laman resmi FIFA, Rabu, 1 Juli 2026.

Pochettino melihat betapa berbahayanya Bosnia dan Herzegovina ketika mengalahkan Italia pada babak play-off kualifikasi Piala Dunia 2026. Tak hanya itu, mereka juga menunjukkan kualitas selama menjalani tiga laga di Grup B.

Untuk itu, kata Pochettino, penting menerapkan pola pikir semua laga adalah final. Hal inilah yang membuat AS-nya Pochettino tampil cukup menjanjikan di Piala Dunia 2026.


Ilustrasi Piala Dunia 2026. Foto: Pexels


"Tentu saja pertandingan besok adalah final, tetapi laga melawan Paraguay juga merupakan final," kata pelatih berusia 54 tahun itu.

"Kami mencoba menciptakan suasana seperti itu saat menjalani laga uji coba melawan Jerman di Chicago, Senegal di Charlotte, Uruguay di Tampa, dan Paraguay di Philadelphia. Kami ingin para pemain merasakan emosi dan intensitas seperti pertandingan hidup-mati," tambah dia.

Sementara itu, pelatih Bosnia dan Herzegovina, Sergej Barbarez, sadar timnya bukan unggulan di laga nanti. Kendati demikian, ia justru senang dengan status ini karena akan membuat timnya tampil tanpa beban.

"Saya tetap melihat Amerika Serikat sebagai favorit. Mereka berada di atas kami dalam peringkat dunia, bermain di kandang sendiri, memiliki banyak pemain hebat, dan sejarah yang kuat," ujar Sergej Barbarez.

"Namun, menjadi tim nonunggulan tidak pernah menjadi masalah bagi kami. Setelah pertandingan dimulai, semua itu tidak lagi penting. Yang terpenting adalah apa yang terjadi di lapangan. Kami telah mempelajari permainan mereka, menyiapkan rencana pertandingan, dan ingin menunjukkan kemampuan kami," tambah pelatih yang seumuran dengan Pochettino itu.

Barbarez mengatakan hanya ada dua kemungkinan di laga nanti, menang atau kalah, lolos atau tersingkir.

"Saya ingin melihat para pemain merayakan dan menikmati momen ini bersama-sama. Itulah harapan terbesar saya," ujarnya.

(Whisnu M)