Prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, Iran. Foto: Viory
Kelompok Anti-Imperialis Eropa Tiba di Iran Hadiri Pemakaman Ali Khamenei
Fajar Nugraha • 3 July 2026 14:15
Teheran: Rombongan aktivis anti-imperialis, akademisi, jurnalis, serta perwakilan dari berbagai pusat kajian Islam di seluruh Eropa dilaporkan tengah melakukan perjalanan ke Teheran, Iran.
Kedatangan mereka bertujuan untuk berpartisipasi langsung dalam rangkaian prosesi pemakaman Pemimpin Revolusi Islam yang gugur, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Kantor berita IRNA, pada Kamis 2 Juli melaporkan bahwa kelompok tersebut, yang terdiri dari anggota poros anti-imperialis Italia, peneliti, profesor universitas, wartawan, perwakilan serikat anti-perang, serta pendukung Revolusi Islam, telah mulai berdatangan di Iran. Kedatangan perwakilan sipil ini terjadi secara mandiri tanpa adanya undangan resmi dari pemerintah negara-negara Eropa tempat mereka tinggal.
Seorang sumber diplomatik menyatakan bahwa upacara pemakaman Imam Khamenei ini telah menarik perhatian para aktivis dan intelektual di seluruh Eropa yang ingin mengekspresikan solidaritas mereka kepada rakyat Iran serta mendukung perlawanan terhadap aliansi yang mereka sebut sebagai Setan Besar dan Setan Kecil. Delegasi tersebut dilaporkan diisi oleh sejumlah tokoh yang memandang mendiang Pemimpin Tertinggi Iran sebagai simbol kemerdekaan, anti-hegemoni, serta pembela bangsa-bangsa tertindas selama berdekade-dekade.
Sumber diplomatik kedua turut mengonfirmasi bahwa otoritas terkait telah menerbitkan visa bagi para perwakilan dari pusat-pusat dan lembaga Islam di Belanda, termasuk bagi ekspatriat Iran serta warga negara Irak dan Turki yang berdomisili di negara tersebut.
Pergerakan serupa dilaporkan tengah berlangsung dari berbagai negara Eropa lainnya, di mana para aktivis, tokoh budaya, dan anggota komunitas Muslim setempat sedang berbondong-bondong menuju Teheran untuk menghadiri upacara pelepasan terakhir.
Sejumlah sumber menyatakan bahwa gerakan akar rumput yang meluas di berbagai kota di Eropa ini merefleksikan daya jangkau global dari visi sang Pemimpin mengenai kemandirian nasional serta perlawanan terhadap segala bentuk dominasi asing.
Para peserta ditekankan hadir bukan sebagai delegasi resmi perwakilan negara, melainkan sebagai representasi dari bangsa dan gerakan masyarakat yang sejak lama menganggap sang Pemimpin sebagai suara perlawanan terhadap kekuatan hegemonik dunia. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, memberikan penjelasan resmi mengenai keputusan pemerintah Iran yang sengaja tidak menerbitkan undangan formal bagi pemerintah negara-negara Eropa.
"Alasan keputusan ini sepenuhnya jelas. Mereka yang akan berpartisipasi dalam upacara pemakaman ini adalah orang-orang yang telah menempatkan diri mereka di sisi sejarah yang benar," ujar Esmaeil Baghaei, seperti dikutip Press TV, pada Jumat, 3 Juli 2026.
Ia menegaskan, bahwa negara-negara Eropa berdiri di sisi sejarah yang salah, baik dalam perang masa lalu maupun dalam konflik baru-baru ini. Selain kehadiran perwakilan masyarakat sipil, gelombang jurnalis dari berbagai media Eropa asal Inggris, Denmark, Italia, Belanda, hingga Austria juga dilaporkan telah tiba di Iran atau akan segera menuju Teheran dalam beberapa hari ke depan untuk meliput langsung jalannya upacara pemakaman.
Kehadiran media internasional yang masif ini menjadi sinyal bahwa prosesi pelepasan tersebut telah melampaui skala acara nasional dan bertransformasi menjadi momentum global, di mana mata dunia kini tertuju ke Iran saat melepaskan pemimpin yang menakhodai Republik Islam melewati salah satu periode paling bergejolak dalam sejarah kontemporer. Baghaei mengatakan bahwa upacara pelepasan dan pemakaman ini merupakan sebuah agenda penting yang memiliki nilai historis yang amat besar.
"Upacara pelepasan dan pemakaman adalah peristiwa bersejarah dan sangat signifikan, tidak hanya bagi bangsa Iran tetapi juga bagi masyarakat di kawasan, umat Islam, dan seluruh orang merdeka di dunia," tutur Baghaei.
Ia menrincikan upacara pelepasan akan dimulai pada pukul 08.00 hari Jumat, dengan penghormatan publik yang terus berlanjut hingga sekitar tengah hari. Pada sore hari, mulai pukul 13.30 atau 14.00, para pejabat tinggi dan tokoh politik akan menghadirinya," rincinya mengenai jadwal acara.
Ia menambahkan bahwa Iran bakal menyambut tamu yang datang dari sekitar 100 negara, termasuk di antaranya para kepala negara, ketua parlemen, menteri luar negeri, utusan khusus, serta sejumlah tokoh publik dan kelompok akar rumput dunia.
Sebelumnya, Sekretaris Komite Pemakaman Nasional, Ali Akbar Pourjamshidian, mengumumkan bahwa jajaran pejabat senior dan pemimpin dari 30 negara lebih di berbagai tingkatan, serta para ulama, ilmuwan, dan pemimpin agama dari 90 negara lebih telah secara resmi mengajukan permohonan untuk hadir memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Pemimpin.
Rangkaian pemakaman yang berlangsung selama beberapa hari ini diperkirakan akan dihadiri oleh 15 hingga 20 juta pelayat, yang mana oleh otoritas setempat disebut akan menjadi pemakaman terbesar dalam sejarah negara tersebut. Prosesi akan dimulai pada hari Sabtu dengan persemayaman jenazah di kompleks ibadah Mosalla Agung Teheran.
Acara kemudian akan dilanjutkan hingga hari Senin melalui prosesi iring-iringan pemakaman di sepanjang rute sejauh 10 kilometer, diikuti dengan ritual keagamaan di kota suci Qom pada 7 Juli, kemudian di Irak pada 8 Juli, dan prosesi pemakaman akhir di Mashhad pada 9 Juli. Upacara penghormatan tersebut dilaporkan juga akan diperluas hingga ke wilayah Irak, di mana prosesi iring-iringan serupa rencananya bakal digelar di kota Baghdad, Karbala, dan Najaf.
Secara kronologis, Ayatollah Khamenei gugur pada usia 86 tahun di kediamannya di pusat kota Teheran pada 28 Februari lalu, yang merupakan hari pertama pecahnya agresi militer koalisi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
(Kelvin Yurcel)