Pertemuan Kepala Negara anggota ASEAN di Cebu, Filipina Jumat 8 Mei 2026. Foto: ASEAN
ASEAN dan Uni Eropa Dorong Kerja Sama Keberlanjutan di Tengah Krisis Energi
Muhammad Reyhansyah • 8 May 2026 20:07
Cebu: Para pemimpin ASEAN dan Uni Eropa (EU) pada Kamis, 7 Mei 2026 menyerukan penguatan kerja sama regional dan langkah cepat dalam bidang keberlanjutan, transisi energi, serta ketahanan ekonomi di tengah meningkatnya tekanan akibat krisis energi dan gangguan rantai pasok global.
Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN-EU Sustainability 2026 perdana di Cebu, Filipina, pejabat pemerintah, diplomat, dan pelaku industri menekankan bahwa keberlanjutan kini menjadi elemen utama bagi stabilitas ekonomi jangka panjang dan daya saing kawasan.
Pertemuan yang digelar di sela KTT ASEAN itu mempertemukan lebih dari 200 pembuat kebijakan, duta besar, dan eksekutif industri senior dari ASEAN dan Eropa untuk membahas strategi konkret dalam memperkuat kerja sama di bidang aksi iklim, perdagangan, ketahanan pangan, dan rantai pasok yang tangguh.
Menteri Keuangan Filipina Frederick Go menyoroti pentingnya kemitraan ekonomi yang lebih dalam antara Filipina dan Uni Eropa.
"Eropa dan Filipina memiliki kemitraan yang stabil dan terus berkembang, dibangun di atas perdagangan, investasi, dan kerja sama pembangunan," kata Go dalam pidato utamanya, dikutip dari PNA, Jumat, 8 Mei 2026.
"Saat ini, kerja sama itu juga berfokus pada keberlanjutan, iklim, dan pertumbuhan inklusif, dan kami tetap berkomitmen memperdalam kolaborasi dengan Uni Eropa serta memajukan prioritas bersama," lanjutnya.
Go juga menyebut usulan Perjanjian Perdagangan Bebas Uni Eropa-Filipina sebagai "kesepakatan ekonomi paling penting tahun ini" bagi Filipina, dengan target penandatanganan pada kuartal ketiga 2026.
Krisis Energi Jadi Momentum Transisi Hijau
Presiden European Chamber of Commerce of the Philippines (ECCP) Paulo Duarte mengatakan KTT tersebut berlangsung pada saat yang sangat penting di tengah ketidakpastian global akibat volatilitas energi, gangguan rantai pasok, dan kenaikan biaya."Ini mencerminkan kesadaran bersama di kawasan bahwa keberlanjutan bukan lagi pilihan tambahan. Ini adalah inti dari ketahanan ekonomi, daya saing, dan pertumbuhan jangka panjang," ujar Duarte.
Duta Besar Uni Eropa untuk Filipina Massimo Santoro menekankan pentingnya menyelaraskan ambisi iklim dengan pendanaan dan mekanisme implementasi yang memadai.
"Meskipun kita memiliki ambisi besar dalam menetapkan target aksi iklim dan lingkungan, kita tidak selalu menyinkronkan sumber daya finansial yang dibutuhkan untuk mewujudkan ambisi tersebut," kata Santoro.
"Memperkuat hubungan antara ambisi dan pendanaan sangat penting untuk mengubah kebijakan menjadi dampak nyata di lapangan," tambahnya.
Santoro juga menegaskan perlunya pendekatan regional yang terintegrasi terhadap keberlanjutan dan ketahanan. "Tidak boleh ada sekat antara kerja sama perdagangan, iklim, dan pengurangan risiko bencana karena semuanya saling berkaitan," ujarnya.
Menurutnya, situasi energi saat ini harus menjadi peluang untuk mempercepat pendekatan terintegrasi, termasuk dalam pengembangan energi terbarukan dan ketahanan ekonomi.
Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia Leonardo Teguh Sambodo mengatakan pemerintah ASEAN harus mampu menyeimbangkan target pertumbuhan ekonomi dengan pengurangan emisi demi keberlanjutan jangka panjang.
"Satu-satunya jalan yang layak ke depan adalah perencanaan yang kohesif yang mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam setiap aspek pembangunan," katanya.