Dewan Redaksi Media Group Jaka Budi Santosa. Foto: MI/Ebet.
Podium MI: Nasionalisme ala Mbah No
Media Indonesia • 20 August 2026 06:39
PERINGATAN HUT kemerdekaan RI selalu menyisakan kisah mengharukan sekaligus membanggakan. Tahun ini, kisah itu datang dari Lapangan Untung Suropati, Banyuwangi, Jawa Timur.
Barangkali pemandangan sederhana tapi sarat makna tersebut akan luput dari perhatian jika tidak ada dunia maya. Untung ada medsos sehingga cerita patriotisme terekam, diviralkan, lalu menjadi atensi banyak kalangan. Atensi yang membuahkan apresiasi betapa luar biasanya sosok pecinta negeri setulus hati itu.
Sosok itu ialah Suwarno, warga Desa Tambakrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Mbah Suwarno atau Mbah No, begitu ia disapa. Dipanggil mbah karena usianya sudah tua. Sudah 73 tahun. Ia rakyat biasa. Pekerjaannya pemulung yang sehari-hari berkeliling mencari barang-barang bekas atau rongsokan. Jangan tanya soal penghasilan. Pasti kecil. Itu pun tidak pasti. Bergantung pada seberapa banyak barang bekas yang didapat. Bergantung pada seberapa fit kondisinya untuk menjelajahi setiap jengkal tanah yang barangkali memberikan sedikit hadiah.
Mbah No tentu beda dari peserta lain. Kalau yang lain berseragam sesuai dengan profesi masing-masing, ia tidak. Kaus yang dikenakan tampak lusuh. Pun dengan topi penutup kepalanya. Itulah seragamnya sehari-hari yang bisa jadi tak pernah ganti. Karung yang selalu ditenteng untuk menampung barang bekas yang didapat ia digeletakkan di sampingnya. Ia berdiri tegak, lalu memberikan hormat tatkala sang Merah Putih diturunkan paskibra.
Wajah Mbah No yang legam karena terbakar oleh matahari terlihat serius. Ia hormat dengan penuh penghayatan. Ia sedang menunjukkan kecintaannya yang tanpa batas dan tanpa syarat kepada negeri tempatnya lahir dan dibesarkan. Negeri yang barangkali tak memberikan apa-apa, tapi ia tak memedulikan itu semua.
Mbah Suwarno tidak memiliki banyak hal. Penghasilannya sebagai pemulung mungkin hanya cukup untuk menyambung hidup. Negara belum memberikannya kemewahan barang sedikit pun. Ia tak menikmati kue kekuasaan. Tak mendapatkan mobil dinas. Tak tinggal di rumah dinas yang sarat fasilitas. Tak menikmati tunjangan berlapis-lapis atas nama pengabdian kepada negara.
Akan tetapi, di hadapan Merah Putih, ia berdiri tegap. Ia hormat. Ia menunjukkan bahwa mencintai Indonesia tak perlu didasarkan pada pamrih. Kalau John F Kennedy pernah bilang jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negara, kiranya Mbah Suwarno telah melakukannya.
Di situlah nasionalisme Mbah Suwarno terasa begitu menampar kita. Hari ini kita terlalu sering menyaksikan nasionalisme yang ramai di mulut, tapi sepi di kaki dan tangan. Karena kita terlalu kerap melihat elite yang gemar meneriakkan NKRI harga mati, tetapi perilakunya justru menyebabkan negeri ini menuju kematian.
Banyak yang lantang bicara tentang cinta tanah air. Akan tetapi, mereka diam-diam atau bahkan mulai terang-terangan menggerogoti uang rakyat. Ada yang mengaku berjuang demi kepentingan bangsa, tetapi kursi kekuasaan diperlakukan seperti mesin untuk memperkaya diri sendiri dan kelompok mereka. Ada yang setiap tahun tampil paling depan dalam seremoni HUT kemerdekaan, tetapi setelah upacara selesai sibuk menghitung apa yang bisa didapat lagi dari negara.
Mbah Suwarno tidak seperti itu. Ia tak perlu berpidato tentang nasionalisme. Ia tak perlu memasang slogan dan jargon cinta Indonesia. Ia tak perlu menyuruh orang lain untuk mencintai negeri ini. Ia cukup berdiri ketika Merah Putih dikibarkan dan diturunkan. Selesai. Tanpa embel-embel. Tanpa syarat.

Upacara detik-detik Proklamasi. Foto: BPMI Setpres.
Justru karena itu, rasa hormatnya terasa lebih dalam ketimbang seribu slogan. Nasionalisme sejatinya memang bukan soal seberapa lantang seseorang meneriakkan Indonesia, melainkan seberapa jauh ia bersedia menjaganya dalam tindakan nyata.
Mbah No memberikan pelajaran mahal, yakni nasionalisme tidak selalu lahir dari mereka yang paling banyak menerima dari negeri ini. Terkadang ia justru tumbuh paling subur di dada mereka yang mendapatkan paling sedikit, bahkan yang tak mendapatkan apa-apa. Malah, mereka yang memperoleh banyak dari negara kadang paling mudah lupa kepada negara.
Mbah Suwarno mungkin hanya memiliki karung untuk mencari barang bekas. Karungnya lusuh, tapi nasionalismenya bersih dan terus menyala. Kausnya sederhana, tapi penghormatannya kepada Merah Putih begitu agung.
Dalam pidatonya pada 1927, proklamator Bung Hatta menggambarkan 'Indonesia' sebagai lambang suci negeri merdeka yang diperjuangkan dengan mengorbankan kepentingan pribadi. Karena itu, mungkin kita perlu belajar kembali tentang kemerdekaan dari Mbah Suwarno.
Meski saya yakin ia sama sekali tak mengharapkan, Mbah No mulai mendapatkan apresiasi. Ia memang layak memperolehnya. Kiranya apresiasi tertinggi ialah mengikuti jejaknya ihwal bagaimana mencintai Indonesia sepenuh jiwa setulus hati.