Karhutla Kalimantan Menyebar ke Malaysia, 591 Sekolah di Sarawak Ditutup

Ilustrasi karhutla. Foto: Dok. Media Group Network (MGN).

Karhutla Kalimantan Menyebar ke Malaysia, 591 Sekolah di Sarawak Ditutup

Putri Purnama Sari • 20 August 2026 16:57

Jakarta: Sebanyak 591 sekolah di Sarawak, Malaysia, ditutup sementara mulai Kamis, 20 Agustus 2026, hingga Jumat, 21 Agustus 2026. Penutupan dilakukan menyusul kondisi cuaca panas dan kering berkepanjangan yang melanda sejumlah wilayah di negara bagian tersebut.

Departemen Pendidikan Sarawak (JPNS) mengatakan penutupan sekolah tersebut mencakup 509 sekolah dasar dengan 107.590 siswa serta 82 sekolah menengah dengan 89.733 siswa. Sekolah-sekolah tersebut berada di bawah 10 Pejabat Pendidikan Daerah (PPD).

Adapun wilayah yang terdampak meliputi Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu, dan Betong.

591 Sekolah Ditutup Sementara

Penutupan sekolah dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak cuaca panas dan kering yang berlangsung cukup lama di Sarawak.

Selain berdampak terhadap aktivitas pendidikan, kondisi tersebut juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan, lahan gambut, dan area terbuka.

Komite Manajemen Bencana Negara Bagian Sarawak (JPBN) mengatakan pihaknya terus memantau sejumlah faktor, mulai dari kondisi cuaca, kualitas udara, titik panas, risiko kebakaran hutan dan lahan gambut, hingga ketersediaan pasokan air.

Pemantauan tersebut dilakukan untuk memastikan pemerintah dapat mengambil langkah pencegahan dan penanganan apabila kondisi semakin memburuk.

Cuaca Panas dan Kering Tingkatkan Risiko Kebakaran

JPBN Sarawak memperingatkan bahwa kondisi panas dan kering yang berlangsung dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko kebakaran di kawasan hutan, lahan gambut, maupun area terbuka.

Selain ancaman kebakaran, kondisi tersebut juga berpotensi memberikan tekanan terhadap sumber daya air di sejumlah wilayah Sarawak.

"Karena itu, JPBN akan terus memperkuat pemantauan, kesiapsiagaan, serta langkah pencegahan dan mitigasi, terutama di wilayah berisiko tinggi," kata JPBN dalam pernyataannya, yang dikutip dari laman Bernama, Kamis, 20 Agustus 2026.

Pemerintah daerah pun terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi kemungkinan memburuknya kondisi lingkungan akibat cuaca ekstrem tersebut.

Sejumlah Wilayah Catat Kualitas Udara Tidak Sehat


Foto udara karhutla di Kelurahan Sepan, Penajam Paser Utara, Kaltim, pada Rabu (19/8) (ANTARA/ HO- BPBD Kabupaten PPU)

Selain cuaca panas dan kering, kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak juga menjadi perhatian. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan cuaca setempat, tetapi juga berpotensi dipengaruhi oleh asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari wilayah Kalimantan, Indonesia.

Letak Sarawak yang berbatasan langsung dengan Kalimantan membuat asap dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berpotensi terbawa angin menuju wilayah Malaysia. Kondisi tersebut dapat memperburuk kualitas udara, terutama ketika cuaca kering dan kecepatan angin mendukung pergerakan asap.

Hingga pukul 14.00 waktu setempat pada Kamis, terdapat 18 lokasi yang berada dalam pemantauan. Sejumlah wilayah tercatat memiliki indeks polusi udara (API) dalam kategori tidak sehat. Beberapa di antaranya yakni:

  • Kuching: API 191
  • Samarahan: API 175
  • Serian: API 195
  • Sri Aman: API 178
  • Sarikei: API 154
  • Sibu: API 108
  • Lundu: API 180
  • Tebedu: API 169
  • Lubok Antu: API 191

Tingginya indeks polusi udara tersebut menunjukkan kualitas udara di sejumlah kawasan Sarawak perlu mendapat perhatian. Kondisi ini menjadi semakin mengkhawatirkan di tengah cuaca panas dan kering yang meningkatkan risiko kebakaran di wilayah Sarawak maupun kawasan sekitarnya.

Dampak asap karhutla dari Kalimantan juga menjadi perhatian karena dapat menyebabkan penurunan kualitas udara lintas batas. Jika konsentrasi asap meningkat dan terbawa angin, masyarakat di wilayah perbatasan hingga kawasan lain di Sarawak dapat ikut terdampak.

Penutupan ratusan sekolah menjadi salah satu langkah pencegahan untuk melindungi siswa dan tenaga pendidikan dari paparan kondisi udara yang tidak sehat serta cuaca ekstrem.

JPBN Sarawak menyatakan pemantauan serta upaya kesiapsiagaan dan mitigasi akan terus diperkuat, khususnya di wilayah yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap kebakaran dan penurunan kualitas udara.

(Putri Purnama Sari)