DSC Season 16 menegaskan posisinya sebagai ruang tumbuh wirausaha Indonesia yang berdaya saing dan berkelanjutan (Foto:Dok)
Soroti Karakter Founder, DSC Season 16 Tekankan Kolaborasi dan Keberlanjutan
Patrick Pinaria • 5 February 2026 12:15
Jakarta: DSC Season 16 telah sukses digelar. Pada penyelenggaraan ke-16 ini, DSC menempatkan penguatan karakter wirausahawan sebagai fokus utama dalam proses kurasi dan pendampingan peserta.
Ketua Dewan Komisioner DSC, Surjanto Yasaputera, menegaskan bahwa penilaian tidak hanya bertumpu pada performa bisnis, melainkan pada karakter founder melalui pendekatan 3P: Paham, Piawai, dan Persona.
"Dari 24 challenger yang lolos, kami melihatnya equal dalam hal bisnis. Yang kami nilai adalah karakternya,” ujar Surjanto saat konferensi pers Final DSC Season 16 di Jakarta, pada Kamis, 29 Januari 2026.
Menurut Surjanto, proses seleksi DSC Season 16 dimulai dari 43.281 proposal yang masuk, kemudian dikurasi menjadi 45, 24, hingga 12 finalis terbaik. Pada tahap akhir, hibah modal usaha disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing bisnis, namun satu peserta tetap dipilih sebagai Best of The Best berdasarkan akumulasi nilai 3P.
Peran pendampingan intensif juga dirasakan oleh para coach. Nilamsari, Founder Kebab Turki Baba Rafi sekaligus CEO PT Nava Sari Kreasi, yang menjadi coach DSC Season 16, menilai bahwa pola pikir founder tahun ini mengalami pendalaman signifikan.
"Kalau tahun ini, mereka tidak hanya sekadar mencari profitability, tapi sudah memikirkan impact," ujar Nilamsari.
Ia menyoroti munculnya bisnis berbasis pangan sehat, keberlanjutan, serta pemanfaatan produk lokal. Selain itu, Nilamsari melihat kuatnya semangat kolaborasi antarpeserta, baik selama proses kompetisi maupun setelahnya.
"Jiwa kolaborasinya ini sangat kuat," katanya.
Penghargaan Best of The Best
Jonathan Holiyanto, Founder Lean Lab dinobatkan sebagai peraih penghargaan Best of The Best (Foto:Dok)
Puncak DSC Season 16 menetapkan Jonathan Holiyanto, Founder Lean Lab, sebagai peraih penghargaan Best of The Best. Lean Lab dikenal sebagai produsen makanan bernutrisi tinggi dan rendah kalori. Jonathan menilai keunggulan DSC terletak pada pendampingan jangka panjang.
"Kita tidak cuma lewat 18 hari lalu selesai. Kita mendapat dua tahun additional mentoring," ujar Jonathan.
Ia juga menyebutkan bahwa kedekatan antarpeserta dan mentor membuka peluang kolaborasi berkelanjutan dalam ekosistem DSC.

Produk Lean Lab (Foto:Dok)
Selain Jonathan, sejumlah finalis lain turut menampilkan ragam sektor bisnis. Bela Putra Perdana dari Rumah Tempe Indonesia menuturkan bahwa bisnisnya telah berdiri sejak 2012 dan terlibat dalam pengembangan standar nasional tempe. Ghea Anisa, pendiri Roti Kembang asal Bandung, menghadirkan produk roti sourdough dengan fokus pada kualitas dan kesehatan. Sementara dari sektor teknologi dan kriya hadir Sidhi Umbara (Revelware Technology), Kevin Ananta Marga (Vityuu Sweet Block Spray), serta Dhea Febrina (Klab Serru!).
Surjanto juga menegaskan bahwa DSC mendorong wirausaha yang matang secara karakter dan siap bertumbuh berkelanjutan. Semangat ini selaras dengan konsistensi Wismilak Foundation yang selama 16 tahun menjadi penggerak utama DSC.
Program Initiator DSC, Edric Chandra, menyebut keberlanjutan tersebut sebagai upaya membangun merek dan usaha berumur panjang. “Kita ingin mendekati merek-merek yang umurnya bisa 10 tahun, 20 tahun, bahkan 63 tahun seperti Wismilak," ujarnya.
Melalui kolaborasi lintas sektor, pendampingan berkelanjutan, dan penekanan pada karakter founder, DSC Season 16 kembali menegaskan posisinya sebagai ruang tumbuh wirausaha Indonesia yang berdaya saing dan berkelanjutan.