Menkeu Pantau Yield SBN, Investor Asing Beli Bersih Rp28,79 Triliun

Menteri Keuangan Suahasil Nazara. Foto: Metrotvnews.com/Andika Fauzan.

Menkeu Pantau Yield SBN, Investor Asing Beli Bersih Rp28,79 Triliun

Andika Fauzan Azhari • 3 November 2026 20:49

Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menegaskan pemerintah terus memantau situasi pasar keuangan dan mengevaluasi pergerakan yield Surat Berharga Negara (SBN) secara berkala. Hasil pemantauan tersebut menjadi acuan penting dalam menentukan langkah serta rencana penerbitan SBN berikutnya.

"Tentu kita selalu melihat situasi yang terjadi setiap hari dan yield SBN itu selalu berubah-ubah setiap hari di secondary market, lalu kemudian itu menjadi patokan dari penerbitan berikutnya oleh pemerintah," ujar Menkeu Suahasil dalam Konferensi Pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Selasa, 3 November 2026.

Ia menjelaskan, pemantauan pergerakan yield SBN merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mendeteksi situasi dan ketahanan pasar keuangan domestik secara terus-menerus.

Pemerintah memanfaatkan ketersediaan saldo kas (cash balance), Saldo Anggaran Lebih (SAL), penempatan dana, serta berbagai mekanisme APBN lainnya sebagai bentuk perlindungan dan penopang ketahanan keuangan.

Menurut Suahasil, pemerintah juga konsisten membangun komunikasi yang transparan dengan para pelaku pasar terkait realisasi serta sisa target penerbitan SBN hingga akhir tahun.

"Yang namanya penerbitan SBN itu selalu kita komunikasikan kepada market, berapa yang sudah diterbitkan dan sisa tahunnya bisa dihitung, sehingga rencana penerbitan itu akan terus kita lakukan pemantauan pasar dan juga komunikasi ke pasar," tambah dia.


Suasana konferensi pers KSSK pada 3 November 2026. Foto: Metrotvnews.com/Andika Fauzan.
 

 

Asing masih menunjukkan minat ke SBN


Namun demikian, investor asing masih menunjukkan minat yang relatif tinggi terhadap SBN, dengan pembelian bersih (net buy) investor nonresiden mencapai Rp28,79 triliun pada triwulan III-2026.

"Pasar SBN cukup resilien di tengah volatilitas pasar keuangan global," kata Suahasil Nazara, dilansir Antara.

Menkeu menjelaskan, sejalan dengan pembelian bersih tersebut, kepemilikan SBN oleh investor nonresiden meningkat sebesar 3,28 persen dibandingkan dengan posisi akhir 2025.

Ketahanan pasar SBN juga tercermin dari selisih imbal hasil (yield spread) antara SBN seri acuan (benchmark) tenor 10 tahun dan surat utang pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury (UST) dengan tenor yang sama.

Pada kuartal III-2026, selisih imbal hasil kedua instrumen tersebut tercatat sebesar 183 basis poin (bps), turun tipis dibandingkan dengan posisi akhir 2025 yang mencapai 184 bps.

"Kinerja yang cukup positif ini berhasil dicatatkan di tengah lingkungan suku bunga global yang sedang tinggi," ujar Suahasil.

Kinerja pasar SBN tersebut berlangsung ketika prospek ekonomi global masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama eskalasi konflik geopolitik dan kecenderungan kebijakan moneter negara-negara utama yang tetap ketat.

(Ade Hapsari Lestarini)