Menteri Pertahanan Mali Dikabarkan Tewas Dibunuh Militan Afiliasi Al-Qaeda

Menhan Mali, Sadio Camara. (Mohamed Dagnoko/VOA)

Menteri Pertahanan Mali Dikabarkan Tewas Dibunuh Militan Afiliasi Al-Qaeda

Riza Aslam Khaeron • 27 April 2026 10:54

Bamako: Menteri Pertahanan Mali, Sadio Camara, dikabarkan tewas dalam serangan bom truk bunuh diri yang menargetkan kediamannya di dekat ibu kota Bamako. Insiden tragis ini terjadi di tengah gelombang serangan terkoordinasi oleh militan jihadis dan kelompok separatis yang tengah melanda berbagai wilayah di negeri tersebut.
 
Melansir BBC, sejumlah kantor berita melaporkan bahwa serangan yang diluncurkan oleh militan berafiliasi al-Qaeda di Kati pada Sabtu, 26 April 2026, turut menewaskan setidaknya tiga anggota keluarga Camara.

Televisi negara Mali mengonfirmasi kabar duka tersebut beberapa jam kemudian, dengan menyatakan bahwa Camara mengembuskan napas terakhir akibat luka parah yang dideritanya saat berupaya mempertahankan diri dari para penyerang.

Juru bicara pemerintah, Issa Ousmane Coulibaly, dalam pernyataan resminya pada Minggu malam menjelaskan bahwa Camara tewas ketika "sebuah kendaraan yang sarat dengan bahan peledak dan dikendarai oleh seorang penyerang bunuh diri menargetkan kediaman menteri."

Pernyataan tersebut menambahkan bahwa Camara sempat "berbalas tembakan dengan para penyerang dan berhasil menetralisir beberapa dari mereka," namun nyawanya tidak tertolong meski sempat dilarikan ke rumah sakit.

Dahsyatnya ledakan tersebut menyebabkan kediaman Camara ambruk dan menghancurkan sebuah masjid di sekitarnya. Sejumlah jemaah yang berada di lokasi juga dilaporkan menjadi korban jiwa.

Selain serangan di Bamako, pertempuran hebat pada Sabtu tersebut juga pecah di kota Kati—yang merupakan pangkalan militer utama—serta di Gao dan Kidal di wilayah utara, hingga kota Sevare dan Mopti di bagian tengah.

Laporan menunjukkan bahwa kelompok separatis Tuareg berfokus menyerang kota-kota di utara untuk membentuk negara sendiri, sementara kelompok jihadis Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) melancarkan serangan serentak di berbagai titik strategis nasional.


Sadio Camara. (Dok. Militer Rusia)
 

Serangan Terbesar Jihadis Mali

Di sisi lain, kepala junta militer, Jenderal Assimi Goita, dikabarkan telah dipindahkan ke lokasi yang lebih aman setelah kediamannya turut menjadi sasaran.

Sementara itu, di wilayah utara, tentara bayaran Rusia yang disewa militer Mali dilaporkan telah sepakat untuk mundur dari Kidal setelah bentrokan selama dua hari melawan Front Pembebasan Azawad (FLA). Kelompok separatis tersebut kini mengeklaim telah menguasai sepenuhnya kota Kidal.

Meski penyiar nasional ORTM melaporkan situasi kini "sepenuhnya terkendali" dengan kerusakan yang disebut "terbatas," militer Mali mengonfirmasi bahwa pertempuran sporadis masih terus berlangsung di beberapa wilayah, termasuk Kati dan Kidal.
 
Baca Juga:
Ledakan dan Baku Tembak Guncang Pangkalan Militer di Mali

Menanggapi situasi ini, militer Mali menegaskan bahwa kekerasan tersebut "tidak akan dibiarkan begitu saja." Status siaga nasional telah diberlakukan dengan peningkatan patroli skala besar dan penguatan pos pemeriksaan. Jam malam juga diterapkan di beberapa daerah, termasuk di Bamako yang berlaku mulai pukul 21.00 hingga 06.00 waktu setempat.

Menyusul serangan luas tersebut, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengecam keras "tindakan kekerasan" tersebut dan menyatakan "solidaritasnya dengan rakyat Mali." Kecaman serupa juga datang dari blok regional ECOWAS.

Kapten Ibrahim Traoré, penguasa militer Burkina Faso sekaligus Presiden Aliansi Negara-Negara Sahel (AES), mendeskripsikan serangan itu sebagai tindakan yang "biadab dan tidak manusiawi" serta meyakini bahwa aksi tersebut didalangi oleh "musuh-musuh perjuangan pembebasan Sahel."

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)