Ketua Umum Forum Komunikasi Nasional (FKN) Ikatan Keluarga Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (IKA PTKIN) se-Indonesia, Idrus Marham (ketiga dari kanan). Foto: Dok. Istimewa.
Festival Dunia Baru Islam Bentuk Respons Tantangan Zaman
Fachri Audhia Hafiez • 25 April 2026 08:57
Jakarta: Festival Dunia Baru Islam pada Tahun Baru Islam 1448 Hijriah siap digelar. Momentum ini diharapkan untuk menjawab tantangan zaman.
“Kita akan melakukan suatu kegiatan yang untuk sementara kita beri nama Festival Dunia Baru Islam, yaitu Islam dan Islam Indonesia merespons tantangan zaman baru,” ujar Ketua Umum Forum Komunikasi Nasional (FKN) Ikatan Keluarga Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (IKA PTKIN) se-Indonesia, Idrus Marham, usai acara pengukuhan pengurus FKN IKA PTKIN di Jakarta, dikutip melalui keterangan tertulis, Jumat, 24 April 2026.
Program itu bagian dari inisiasi IKA PTKIN. Wadah baru yang menghimpun alumni PTKIN seluruh tanah air ini berkomitmen menjalankan program tersebut pada Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
Idrus menjelaskan, festival tersebut dirancang sebagai wadah pertukaran gagasan berskala internasional. Agenda di dalamnya mencakup pertemuan tokoh Islam dunia, seminar nasional, hingga festival budaya seperti kuliner dan busana muslim.
Pihaknya berencana mengundang para duta besar negara-negara Islam yang bertugas di Indonesia untuk berpartisipasi dalam perhelatan tersebut.
Selain sebagai wadah sosial, forum ini ditargetkan menjadi mesin pemikiran konstruktif untuk menjawab berbagai persoalan keumatan dan kebangsaan. Idrus menekankan, konsolidasi alumni menjadi langkah krusial dalam memperkuat persatuan dan kemajuan Indonesia.
“Kita akan membicarakan bagaimana peran umat Islam dalam rangka untuk mengkonsolidasikan kekuatan keumatan dan kebangsaan untuk persatuan dan kemajuan Indonesia ke depan,” ucap dia.
.jpg)
Ilustrasi. Foto: Dok. Medcom.id.
Ke depan, forum ini juga akan memberikan kontribusi pemikiran terhadap kebijakan luar negeri pemerintah, termasuk menyuarakan isu kemanusiaan global seperti dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Idrus memastikan sinergi antara alumni dan kampus akan terus diperkuat sebagai satu kesatuan fungsional.
“Kita betul-betul satu kesatuan karena antara alumni dengan kampus itu tidak bisa dipisah dan secara fungsional akan berpikir dan bersama-sama ke depan,” ujar dia.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar yang turut hadir dalam pertemuan tersebut menyambut baik pembentukan forum ini. Ia menilai momentum ini sangat tepat untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai episentrum peradaban Islam dunia di tengah dinamika global.
“Memperhatikan situasi global sekarang ini, sangat timely untuk mempersiapkan Indonesia menjadi episentrum peradaban dunia Islam akan datang,” kata Nasaruddin.
Nasaruddin menambahkan, stabilitas politik dan ekonomi Indonesia merupakan modal utama untuk melahirkan pemikir-pemikir besar Islam. Karakter Islam Indonesia yang moderat, lanjutnya, menjadi keunggulan yang diakui dunia internasional karena tidak dianggap sebagai ancaman oleh pihak mana pun.
“Tawaran Islam Indonesia itu adalah Islam moderat. Tidak ada orang yang ragu dan tidak ada orang yang curiga kalau Islam itu berkembang di Indonesia, karena tidak akan pernah menjadi ancaman kepada siapa pun,” ujar Nasaruddin.