Gunung Awu Alami Ratusan Gempa, Warga Diminta Jauhi Radius 3 Km

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan, kegempaan Gunung Awu di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulut pada periode 1 – 15 Februari 2026 didominasi gempa vulkanik dangkal dan gempa tektonik jauh. ANTARA/HO-Pos PGA Awu

Gunung Awu Alami Ratusan Gempa, Warga Diminta Jauhi Radius 3 Km

Lukman Diah Sari • 10 March 2026 08:26

Manado: Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan kegempaan Gunung Awu di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulwesi Utara (Sulut) pada periode 1 – 15 Februari 2026 didominasi gempa vulkanik dangkal dan gempa tektonik jauh.

"Pada periode tersebut terekam 218 kali gempa vulkanik dangkal dengan rata-rata 14 kejadian per hari, delapan kali gempa vulkanik dalam, tiga kali gempa tektonik lokal, 260 kali gempa tektonik jauh," kata Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria dalam laporan diterima ANTARA di Manado, Senin, 9 Maret 2026, melansir Antara.

Energi gempa-gempa vulkanik secara keseluruhan, yang berdasarkan nilai perataan amplitudo rekaman gempa RSAM (Real Time Seismic Amplitude Measurement) menunjukkan nilai fluktuatif.  Pada periode tersebut, kata Lana, grafik RSAM secara umum masih mengalami fluktuasi yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan kegempaan. 

Dia menyampaikan, kondisi gempa vulkanik dangkal saat ini mengalami hampir sama dibanding periode sebelumnya dimana rata-rata kejadian 14 kejadian per hari. Berdasarkan hasil evaluasi, pengamatan visual kawah Gunung Awu tidak mengalami perubahan yang signifikan sejak awal bulan Juli 2024 dan pada periode 1 – 15 Februari 2026 embusan asap kawah teramati hanya 10 - 50 meter di atas kubah lava, dominan di bawah 50 meter di atas kubah lava. 

"Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas embusan asap kawah masih berfluktuasi dan tidak terjadi peningkatan yang menerus dan signifikan," jelas Lana. 

Dia menambahkan gempa vulkanik dangkal pada periode tersebut tidak mengalami perubahan namun dengan jumlah rata-rata per hari masih di atas normal.  Jumlah gempa vulkanik dangkal yang masih di atas normal mengindikasikan proses magmatik dan akumulasi tekanan masih terus berlangsung di kedalaman dangkal yang menyebabkan terjadinya retakan atau pelepasan tekanan pada batuan di dekat permukaan sehingga perlu diwaspadai.

Sementara itu, dari hasil pengamatan visual dan instrumental menunjukkan bahwa aktivitas magmatik di Gunung Awu masih terjadi secara aktif.  Menurutnya, meskipun kondisi kegempaan yang fluktuatif, namun dengan masih terekam gempa vulkanik dangkal dalam jumlah di atas normal, maka aktivitas magma masih cukup tinggi dan perlu diwaspadai. 

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan, kegempaan Gunung Awu di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulut pada periode 1 – 15 Februari 2026 didominasi gempa vulkanik dangkal dan gempa tektonik jauh. ANTARA/HO-Pos PGA Awu

Kejadian peningkatan kegempaan secara tiba-tiba (swarm gempa vulkanik) maupun peningkatan gempa Low Frequency masih perlu diwaspadai di masa mendatang.  Laporan itu menjelaskan, potensi bahaya Gunung Awu yang mungkin terjadi berupa erupsi magmatik eksplosif yang menghasilkan lontaran material pijar dan/atau aliran piroklastik, erupsi magmatik efusif yang menghasilkan aliran lava, maupun erupsi freatik yang didominasi uap, gas gunung maupun material erupsi sebelumnya. 

Selanjutnya, potensi pembongkaran kubah lava dapat terjadi jika tekanan di dalam sistem magmatik mengalami peningkatan signifikan, sementara potensi bahaya lain berupa hembusan gas vulkanik yang dapat membahayakan jiwa jika konsentrasi yang terhirup melebihi nilai ambang batas aman.

Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh hingga 15 Februari 2026, maka tingkat aktivitas Gunung Awu pada Level II (Waspada) dengan rekomendasi yang disesuaikan dengan potensi ancaman bahaya terkini di antaranya masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak memasuki dan tidak beraktivitas di dalam wilayah radius 3 kilometer dari pusat kawah. 

Masyarakat diharapkan mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, dan tidak terpancing oleh berita-berita yang tidak benar dan tidak bertanggungjawab. Kemudian mengikuti arahan dari instansi yang berwenang yakni Badan Geologi yang akan terus melakukan koordinasi dengan BNPB, BMKG, kementerian/lembaga, pemda, dan instansi terkait lainnya. 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)