Relawan Pendidikan Sekolah Sukma Bangsa (SSB) bersama Fisipol UGM Mengajar melakukan pendampingan pembelajaran bagi siswa terdampak bencana di Aceh. Foto: Istimewa
Relawan Sukma Bangsa dan Fisipol UGM Mengajar di Pengungsian Aceh
Fajri Fatmawati • 22 January 2026 16:02
Pidie Jaya: Relawan Pendidikan Sekolah Sukma Bangsa (SSB) bersama Fisipol UGM Mengajar terus melakukan pendampingan pembelajaran bagi siswa terdampak bencana di sejumlah wilayah Aceh. Para relawan saat ini beraktivitas langsung di lokasi pengungsian dan sekolah darurat yang melaksanakan proses belajar mengajar di tenda.
Koordinator Relawan, Victor Yasadana alias Tongky, mengatakan tim relawan berkegiatan di Serempah, tempat SD Negeri 10 Ketol, Kecamatan Ketol menjalankan pembelajaran di tenda darurat. Selain itu, pendampingan juga dilakukan di SMP Negeri 9 Bintang, Kecamatan Bintang, SD Negeri 11 Linge di Pantan Nangka, Kecamatan Linge, serta SMP Negeri 22 Lut Tawar, Takengon.
"Relawan pendidikan juga bergerak di wilayah lain, seperti Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, serta Aceh Tamiang. Untuk memastikan kegiatan belajar anak-anak tetap berlangsung pascabencana," kata Tongky, Kamis, 22 Januari 2026.
Dalam waktu dekat, sekitar 60 relawan baru dijadwalkan mengikuti pelatihan di Sekolah Sukma Bangsa (SSB) Pidie pada 28-30 Januari 2026. Setelah pelatihan, para relawan tersebut akan diterjunkan ke sejumlah wilayah terdampak, termasuk rencana penempatan di Gayo Lues.
Seiring kondisi mulai membaik, sejumlah sekolah, terutama yang bangunannya tidak mengalami kerusakan berat berangsur kembali melaksanakan pembelajaran secara normal. Namun, pihak relawan berharap adanya dukungan informasi dari pemerintah daerah terkait sekolah-sekolah yang masih belajar di tenda atau di lokasi pengungsian.
"Informasi tersebut dibutuhkan untuk melakukan assessment awal penempatan relawan lanjutan, khususnya di wilayah Pidie Jaya, Bireuen, Bener Meriah, Takengon, Gayo Lues, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang," ujar Tongky.
Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Gayo Lues, Basri, menyampaikan dampak bencana banjir di wilayahnya masih cukup besar. Berdasarkan data sementara, sebanyak 249 rumah siswa terdampak banjir, sehingga banyak peserta didik harus belajar dalam keterbatasan.
“Kami masih sangat membutuhkan bantuan peralatan sekolah, seperti seragam, tas, alat tulis, dan perlengkapan belajar lainnya. Saat ini siswa dan guru masih belajar dan mengajar dengan kondisi seadanya,” ujar Basri.

Pembekalan relawan pendidikan Yayasan Sukma Bangsa dan Media Group. Metro TV
Menanggapi kondisi tersebut, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menegaskan proses belajar mengajar harus tetap berlangsung meski dalam situasi darurat bencana. Menurutnya, rasa optimisme yang terus ditumbuhkan kepada siswa akan berdampak besar terhadap semangat belajar mereka.
“Optimisme ini penting agar anak-anak tetap memiliki harapan dan masa depan yang lebih baik ke depan,” ujar Murthalamuddin.
Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bahu-membahu membantu penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah terdampak bencana.
“Dengan kolaborasi seperti ini, kami merasa sangat terbantu. Ini menjadi alasan kuat agar dunia pendidikan Aceh dapat lebih cepat keluar dari masa darurat bencana seperti yang sedang kita hadapi,” pungkas Murthalamuddin.