Iran Sebabkan Kerusakan Fasilitas Intelijen AS Terparah Sepanjang Sejarah

Rudal Iran yang digunakan untuk melawan Amerika Serikat. Foto: Press TV

Iran Sebabkan Kerusakan Fasilitas Intelijen AS Terparah Sepanjang Sejarah

Muhammad Reyhansyah • 27 August 2026 19:27

Teheran: Serangkaian serangan rudal dan drone Iran dilaporkan menyebabkan kerusakan hingga miliaran dolar terhadap fasilitas dan perangkat intelijen Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. 

Skala kerusakan tersebut dinilai "belum pernah terjadi" dalam sejarah komunitas intelijen AS.

NBC News melaporkan kerusakan itu mencakup bangunan, sistem radar, serta peralatan pengumpulan intelijen yang digunakan CIA dan badan intelijen AS lainnya. Laporan tersebut mengutip empat sumber yang mengetahui kondisi tersebut.

“Sejumlah fasilitas terkait intelijen yang terdampak antara lain sebuah stasiun CIA di Riyadh, fasilitas di Irak timur, serta berbagai instalasi radar dan pengawasan di kawasan,” sebut laporan itu, dikutip dari TRT World, Kamis, 27 Agustus 2026.

Serangan Iran juga dilaporkan menghantam jaringan radar pertahanan udara AS. Citra satelit dan bukti visual menunjukkan kerusakan pada sejumlah sistem, termasuk radar AN/TPY-2 di Yordania dan radar phased-array AN/FPS-12 di Qatar, serta fasilitas di Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi.

Kerusakan tersebut memicu kekhawatiran di lingkungan militer dan intelijen AS mengenai kemampuan Washington melindungi aset strategisnya di Timur Tengah. 

Kongres AS bahkan disebut telah mengalokasikan dana darurat khusus untuk pembangunan kembali dan penggantian sejumlah fasilitas serta peralatan yang rusak. Serangan tersebut juga membebani persediaan sistem pertahanan udara AS. 

Centre for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan sekitar 65 persen persediaan rudal pencegat Patriot AS telah digunakan antara Februari hingga Juli, sementara persediaan rudal pencegat balistik THAAD turun sedikitnya 38 persen dibandingkan sebelum perang.

Ketegangan meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada Februari. Teheran kemudian membalas dengan serangan terhadap pangkalan militer dan fasilitas intelijen AS di sejumlah negara kawasan Teluk.

Meski AS dan Iran mencapai nota kesepahaman pada pertengahan Juni melalui mediasi Pakistan untuk menghentikan permusuhan, pelaksanaannya kemudian terhenti akibat perselisihan mengenai sejumlah ketentuan, termasuk akses pelayaran di Selat Hormuz.

(Fajar Nugraha)