Proses penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Blok Ranu Kembang, Gunung Semeru/Balai Besar TNBTS
Lahan Terbakar di TN Bromo Tengger Semeru 1.000 Hektare Lebih
Daviq Umar Al Faruq • 29 August 2026 14:44
Malang: Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tengah memetakan total luasan lahan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Luas lahan yang terbakar diprakirakan lebih dari 1.000 hektare.
Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, merinci titik api di sekitar Gunung Semeru telah menghanguskan lahan hingga Kamis malam, 27 Agustus 2026. Kawasan yang terbakar didominasi oleh ekosistem padang rumput atau sabana.
"Dari perhitungan kami yang sudah kita petakan sampai kemarin malam ya, areal yang terbakar itu ada sekitar 170 hektare dan sebagian besar berupa padang rumput. Karena di atas itu memang didominasi padang rumput mungkin 70 persennya. Sedangkan sisanya areal-areal bervegetasi dan didominasi oleh pohon cemara," kata Rudijanta, Jumat, 28 Agustus 2026.
Baca Juga :
"Kalau secara total tentunya kita perlu memperhitungkan jumlah-jumlah yang keseluruhan ya. Karena ini kan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru itu cukup luas, 50.000 hektare gitu kan. Kemarin kita kan di Bromo sudah terpantau sekitaran 1.000 hektare ya. Ini ada tambahan 170 di sekitar Semeru," jelas Rudijanta.
Guna mengalkulasi total kerugian lingkungan secara presisi, Balai Besar TNBTS berkoordinasi langsung dengan Kementerian Kehutanan. Tim ahli independen dari perguruan tinggi diterjunkan untuk mengumpulkan data akurat di lapangan.
"Karena kalau kami yang menyatakan, tentunya metode-metodenya kurang begitu pas juga. Tapi kalau dari akademisi tentu akan lebih apa namanya, secara scientific lebih teruji, gitu," imbuhnya.
.jpg)
Proses penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Blok Ranu Kembang, Gunung Semeru/Balai Besar TNBTS
Pengelola taman nasional mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan penuh di tengah kondisi alam yang masih sangat kering akibat kemarau panjang. Keteledoran sekecil apa pun di dalam kawasan konservasi dinilai berisiko memicu bencana kebakaran yang berdampak pada perekonomian.
Hingga saat ini, petugas gabungan tetap bersiaga di lapangan untuk memadamkan sisa bara api di area terdampak. Pengawasan intensif terus dilakukan guna mencegah munculnya titik api baru di kawasan taman nasional.