BMKG: Modifikasi Cuaca di Jabar Belum Bisa Dilakukan, Awan Minim

Ilustrasi-Persiapan operasi modifikasi cuaca di Riau untuk membuat hujan buatan dalam upaya meminimalisir kebakaran hutan dan lahan di Riau. ANTARA/HO-Pemprov Riau

BMKG: Modifikasi Cuaca di Jabar Belum Bisa Dilakukan, Awan Minim

Lukman Diah Sari • 28 August 2026 19:02

Bandung: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung menyatakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jawa Barat belum bisa dilakukan. Hal ini disebabkan minimnya potensi awan hujan di wilayah sasaran selama musim kemarau.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, menyebut keberadaan awan adalah syarat mutlak pelaksanaan modifikasi cuaca bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Modifikasi cuaca ini tentunya harus ada potensi awan. Saat ini, potensi awannya masih kurang dari 30 persen, jadi tidak memungkinkan. Kita harus menunggu awannya mengumpul," ujar Suaidi di Bandung, Jumat, 28 Agustus 2026.


Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suaidi Ahadi saat memberikan keterangan di Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (28/8/2026). ANTARA/Rubby Jovan

Kondisi atmosfer yang belum mendukung membuat penyemaian awan urung dilakukan. Suaidi menjelaskan, Jawa Barat, termasuk Kota Bandung, termasuk dalam kawasan Zona Musim (ZOM) yang memiliki karakteristik perbedaan musim hujan dan kemarau yang sangat tegas. Hal ini berbeda dengan wilayah non-ZOM yang cenderung mengalami hujan sepanjang tahun.

Potensi Hujan Lokal Tetap Ada

Meski Jawa Barat tengah dilanda kemarau panjang yang diperparah fenomena El Nino, Suaidi menegaskan kondisi tersebut bukan berarti hujan tidak akan turun sama sekali. Menurutnya, hujan lokal masih berpotensi mengguyur suatu wilayah dengan dipengaruhi oleh beberapa faktor pembentuk, di antaranya:
  • Pengumpulan Awan: Pembentukan gugusan awan di satu titik yang biasanya membuat cuaca terasa gerah sebelum hujan turun.

  • Massa Uap Air: Adanya pergerakan massa air dari wilayah selatan, seperti Samudra Hindia.

  • Dinamika Angin: Dipengaruhi oleh pergerakan musim angin baratan maupun timuran.

"Isu El Nino itu bukan berarti panas sepanjang masa. Hujan masih bisa terjadi karena ada pengumpulan awan yang akhirnya jatuh sebagai hujan lokal," pungkas Suaidi.

(Lukman Diah Sari)