Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara (kanan) bersama Menko IPK Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Foto: Metro TV/Diva.
Tim Ekspedisi Patriot 2026 Bawa Solusi Berkelanjutan di Kawasan Transmigrasi
Diva Rabiah • 17 September 2026 23:35
Jayapura: Kementerian Transmigrasi terus mendorong pengembangan kawasan transmigrasi melalui Ekspedisi Patriot. Program tersebut melakukan riset, pemetaan potensi ekonomi, dan menghadirkan solusi berkelanjutan bagi masyarakat.
Ekspedisi ini menjalankan berbagai proyek yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di kawasan transmigrasi. Salah satu contoh yang dikembangkan adalah pemanfaatan limbah ternak sapi.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, bahwa limbah ternak sapi yang selama ini menimbulkan persoalan lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik, justru dapat memberikan berbagai manfaat jika ditangani secara terstruktur.
"Tadi misalkan, kita ingin menghadirkan satu pengetahuan dan teknologi di kawasan transmigrasi, misalkan kotoran ternak sapi. Itu ternyata setelah kalau dilihat secara lokal, banyak sekali memberikan manfaat yang kurang baik," kata Iftitah di Jayapura, Kamis, 17 September 2026.
Tim Ekspedisi Patriot secara langsung mengadvokasi masyarakat tentang pengelolaan kandang ternak sapi yang lebih rapi dan bersih dan memberi kesempatan pengolahan limbah. Ia menjelaskan, limbah tersebut dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik, biogas, hingga sumber listrik.
Adapun kehadiran Ekspedisi Patriot 2026 juga ditujukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat setempat, khususnya Orang Asli Papua, sekaligus membangun harmonisasi antara masyarakat lokal dan transmigran yang telah datang sejak dekade 1980-an dan 1990-an.
Dorong Komoditas Papua Masuk Skala Industri
Selain pengelolaan limbah, Kementerian Transmigrasi melihat potensi pengembangan komoditas lokal Papua untuk masuk ke skala industri. Iftitah mengungkapkan, sejumlah profesor dari Jepang sebelumnya datang ke Papua, termasuk ke kawasan transmigrasi Lereh, untuk melihat potensi komoditas cokelat.Menurut dia, potensi tersebut juga telah dilihat oleh akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Pemerintah selanjutnya ingin mendorong pengembangan komoditas tersebut dalam skala industri dengan melibatkan dunia usaha.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara. Foto: Antara.
Ia berharap masuknya industri ke kawasan transmigrasi dapat menciptakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Pemerintah juga tengah menjajaki peluang investasi dari luar negeri untuk mengembangkan potensi komoditas di Papua. Iftitah menyebut penjajakan dilakukan dengan investor dari Tiongkok dan Jepang, termasuk untuk pengembangan cokelat dan sejumlah bahan baku lainnya.
Komoditas lokal lain seperti matoa juga dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan.
Belajar dari Pengembangan Kawasan Batam
Iftitah juga mencontohkan pengembangan kawasan Batam, Rempang, dan Galang sebagai salah satu model yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Ia mengatakan kondisi di kawasan tersebut saat ini dinilai semakin kondusif bagi investasi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Batam telah mencapai sekitar 7,2 persen atau 7,28 persen.Iftitah menyampaikan Kementerian Transmigrasi juga berkoordinasi dengan Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Pemerintah Kota Batam untuk membuka peluang pengembangan industri, termasuk industri galangan kapal. Iftitah menyebut pengembangan industri tersebut diproyeksikan dapat membuka lapangan kerja hingga 21 ribu tenaga kerja.
Patriot Disiapkan agar Program Berkelanjutan
Selain menghasilkan pemetaan dan rekomendasi, Kementerian Transmigrasi ingin memastikan program yang dijalankan dapat terus berjalan setelah tim meninggalkan kawasan. Iftitah mengatakan para Patriot tidak hanya memberikan solusi, tetapi juga membimbing masyarakat agar mampu melanjutkan program secara mandiri.Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap Transmigrasi Patriot 2026 dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang dijalankan dan dikembangkan oleh masyarakat setempat secara berkelanjutan.