IIF mendukung pembiayaan ke proyek transisi ke energi baru terbarukan. Foto: Dok IIF
IIF Kebut Pembiayaan Infrastruktur Berkelanjutan
Eko Nordiansyah • 7 April 2026 08:25
Jakarta: PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) memperkuat posisinya sebagai katalis pembangunan infrastruktur berkelanjutan, sekaligus memperluas kolaborasi global dalam mendukung agenda pembangunan rendah karbon dan tanggap risiko iklim di Indonesia.
IIF berpartisipasi pada 5th Annual Sustainability Week Asia yang diselenggarakan oleh Economist Impact di Bangkok, Tailan. Chief Executive Officer IIF, Rizki Pribadi Hasan mengatakan, keikutsertaan IIF bertujuan untuk memperkuat posisi perusahaan.
“Keikutsertaan IIF dalam forum ini merupakan momentum untuk mengukuhkan peran sebagai katalis pembangunan infrastruktur berkelanjutan, sekaligus memperkuat kolaborasi dalam mendukung agenda pembangunan rendah karbon dan tanggap risiko iklim di Indonesia,” ujar Rizki dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 7 April 2026.
Transisi ekonomi rendah karbon
Dalam forum tersebut, Chief Financial Officer (CFO) IIF Eri Wibowo menjelaskan, peran IIF tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pengelolaan risiko iklim. IIF memastikan setiap pembiayaan memberikan dampak terhadap aspek lingkungan dan sosial.IIF mengarahkan alokasi pembiayaan ke proyek-proyek infrastruktur berkelanjutan seperti energi terbarukan dan proyek dengan ketahanan terhadap perubahan iklim. Meski membutuhkan investasi awal yang lebih besar, proyek-proyek tersebut dinilai memiliki stabilitas arus kas jangka panjang.
.jpg)
(IIF berpartisipasi pada 5th Annual Sustainability Week Asia di Bangkok Tailan)
Komitmen tersebut juga diperkuat melalui berbagai inisiatif strategis. Pada awal 2026, IIF menjalin kerja sama dengan Danareksa dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) untuk mendorong implementasi prinsip ESG, khususnya dalam pembiayaan sektorsektor produktif.
Di sisi lain, kepercayaan investor internasional terhadap peran IIF juga meningkat tercermin dari investasi USD 30 juta oleh FinDev Canada pada awal 2026. Ini merupakan dukungan terhadap upaya perusahaan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi rendah karbon di Indonesia.
Kinerja keuangan moncer
Sepanjang 2025, IIF berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp185 miliar, tumbuh 51,2 persen dibandingkan Rp122,5 miliar pada tahun sebelumnya. Total aset juga tumbuh lima persen mencapai Rp15,4 triliun, didorong oleh peningkatan aset produktif sebesar dua persen.Lebih lanjut, IIF menekankan bahwa dalam menghadapi transisi keberlanjutan, perusahaan tidak hanya dituntut untuk bergerak cepat, tetapi juga cermat dalam mengelola risiko. Eri menegaskan, keputusan investasi dilakukan secara seimbang dan terukur.
“Pendekatan yang diambil bukan semata soal kecepatan, melainkan bagaimana memastikan setiap keputusan investasi tetap fleksibel, terukur, dan mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan ketahanan jangka panjang,” kata Eri.