Pengembangan MNK Pertamina Dinilai Bisa Jadi Game Changer Produksi Minyak

Ilustrasi. Dok. Istimewa

Pengembangan MNK Pertamina Dinilai Bisa Jadi Game Changer Produksi Minyak

Achmad Zulfikar Fazli • 21 September 2026 15:45

Jakarta: Langkah Pertamina melalui Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengembangkan program migas nonkonvensional (MNK) di Blok Rokan disambut positif. Hal ini dinilai bisa menjadi game changer bagi produksi minyak Indonesia.

“Game changer-nya migas itu MNK. Hal ini seperti di AS, di mana MNK menjadi pembeda karena potensinya cukup besar, sehingga membuat AS tergolong menjadi produsen minyak yang besar di dunia setelah mengembangkan MNK tersebut di 2.000-an,” kata Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro, Jakarta, Senin, 21 September 2026.

Komaidi menilai potensi MNK di Indonesia cukup besar. Hanya tantangannya adalah karakteristik batuan yang berbeda dan lebih sulit, sehingga harus menggunakan teknologi berbeda dari pengeboran sumur migas biasa.

Konsekuensinya, lanjut dia, adalah biaya produksi. Pasti ada perbedaan sehingga perlu dilakukan kajian agar penerapan MNK bernilai ekonomi.

Menurut Komaidi, upaya mengembangkan MNK di Zona Rokan bukti keandalan Pertamina memproduksi MNK. Hal itu dilakukan Pertamina, antara lain melalui kerja sama dalam menggunakan teknologi migas, mengingat MNK membutuhkan teknologi tinggi dan kompleks.

“Kalau tidak salah, Pertamina melakukan kerja sama riset dan pendidikan teknologi MNK dengan perguruan tinggi pertambangan di AS. Jadi, apakah teknologinya milik sendiri atau dengan pihak lain, PHR terbukti bisa melakukan perencanaan, sampai dengan eksekusi. Artinya, PHR memiliki kehandalan memproduksi MNK,” tegas Komaidi.

Komaidi mengatakan jika program MNK PHR berhasil, tentu membuat rasio cadangan dan produksi migas akan bertambah panjang.  Artinya, masa depan bisnis migas di Indonesia, terutama dengan MNK, juga akan lebih panjang. 

“Sebab, kekhawatiran perusahaan migas adalah jika tidak menemukan cadangan baru. Karena hal itu otomatis membuat usia perusahaan akan segera berakhir,” kata Komaidi.

Jika menemukan cadangan, kata Komaidi, maknanya adalah memperpanjang usia bisnis migas PHR, termasuk Pertamina secara keseluruhan, karena sumur-sumur MNK bisa diproduksi. Sehingga diharapkan potensi-potensi MNK lain di Indonesia juga bisa diproduksi.

“Selain itu, kredibilitas Pertamina dalam produksi migas juga akan meningkat di dunia,” ujar Komaidi.

Ilustrasi. Foto: Dok PHR



Menurut dia, keberhasilan memanfaatkan potensi MNK mampu mendukung ketahanan energi nasional. Sebab, keberadaan blok-blok migas yang baru, berada di laut dalam di Indonesia bagian timur. 

Dalam kondisi seperti itu tentu mengalami kendala infrastruktur dan tingkat kesulitan yang lebih kompleks dibandingkan menggunakan MNK. Termasuk dari sisi biaya yang lebih mahal. 

“Sedangkan MNK, sebagian sumurnya masih ada di daratan. Dengan demikian diharapkan, biaya produksi atau paling tidak secara teknis, tidak sesulit di laut dalam, sehingga memang layak menjadi harapan untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia,” ujar Komaidi. 

PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) sebagai bagian dari Subholding Upstream Pertamina menandatangani Kontrak Bagi Hasil (KBH) MNK Rokan lewat anak usahanya PT PHE Rokan Nonkonvensional. Momentum ini merupakan langkan strategis pengembangan MNK dan mempertegas MNK Rokan sebagai pionir proyek pengembangan MNK di Indonesia.

Perjalanan MNK Rokan dimulai dari pengeboran Gulamo DET-1 pada 2023, kemudian dilanjutkan dengan Kelok DET-1 pada 2024 sebagai bagian dari upaya studi potensi migas nonkonvensional di struktur North Aman.

(Achmad Zulfikar Fazli)