Kronologi dan Sanksi KFA untuk STY Buntut Isu Kekerasan Terhadap Pemain

Pelatih baru Persija Shin Tae-yong pada jumpa pers pengenalan dirinya di Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta Utara, Senin (8/6/2026). ANTARA/Zaro Ezza Syachniar

Kronologi dan Sanksi KFA untuk STY Buntut Isu Kekerasan Terhadap Pemain

Muhamad Marup • 24 July 2026 16:25

Jakarta: Pelatih anyar Persija Jakarta, Shin Tae-yong (STY), terancam sanksi atas kasus penamparan pemain ketika masih melatih Ulsan HD pada tahun 2025.

Insiden yang sempat mencuat akhir tahun lalu itu kembali ramai diperbincangkan usai kabar bahwa Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) akan menjatuhkan sanksi kepada eks pelatih Timnas Indonesia itu.

Informasi ini tentu sedikit banyak berdampak pada Persija yang tengah persiapan liga musim baru dan Piala Presiden 2026 yang sebentar lagi digelar. Meski demikian, ketika kabar penamparan mencuat, STY sendiri sempat membantah kabar tersebut.

Melansir berbagai sumber, berikut kronologi dan sanksi atas insiden tersebut.

Pernyataan Pemain

Bek Ulsan HD, Jung Seung-hyun menjadi pemain yang diduga mendapat tindakan kekerasan oleh STY. Video penamparan bahkan sempat viral di internet.

"Banyak orang yang melihat rekaman tersebut telah menghubungi saya dengan keprihatinan," ujar Jung, mengutip koreajoongangdaily.com, Jumat, 24 Juli 2026.

Bek Ulsan HD, Jung Seung-hyun. Foto: Instagram/seunghyunjung15


Ia merasa kaget atas insiden tersebut, begitu juga para pemain lain, termasuk pemain asing. Menurutnya, terlepas dari ada nia kekerasan atau tidak, tindakan tersebut tetap kekerasan selama korban merasa tidak nyaman.

"Saya rasa saya bukan satu-satunya — pemain lain mungkin merasakan hal yang sama," jelasnya.

Jung juga tidak menampik ketika ada isu yang menyebut STY menginjak kaki seorang pemain dan meniup peluit dekat telinga pemain ketika latihan.

"Tidak akan ada rumor jika itu tidak benar," katanya.

Pembelaan STY

STY menjadi pelatih Ulsan pada Agustus 2025, tetapi dipecat 65 hari kemudian setelah hasil buruk. Ia mengklaim bahwa ia diperlakukan sebagai "pelatih boneka" dan menuduh klub serta para pemain mengucilkannya.

STY menambahkan, konflik mulai memuncak ketika ia menyarankan perombakan besar-besaran skuad setelah pertandingan Liga Champions AFC di Tiongkok. Langkah tersebut mendorong beberapa pemain senior untuk memberi tahu klub bahwa mereka tidak dapat bekerja sama dengannya. Ia mengklaim Ulsan memecatnya semata-mata berdasarkan keluhan para pemain. Ia juga membantah klaim bahwa ia melakukan kekerasan fisik atau verbal terhadap para pemain dan mengatakan tindakannya adalah "ungkapan kasih sayang".

Sanksi STY

Atas insiden tersebut, STY berpotensi menghadapi sanksi berat dari KFA. Menurut berbagai laporan, sanksi yang mungkin dijatuhkan meliputi larangan melatih hingga 10 tahun atau larangan melatih seumur hidup di Korea Selatan.

Namun, sanksi KFA hanya akan berlaku di Korea Selatan. STY saat ini bebas untuk melanjutkan perannya sebagai pelatih kepala Persija Jakarta, setelah menandatangani kontrak tiga tahun dengan klub Indonesia tersebut pada Juni 2026.

(Muhamad Marup)