Muhammad Suryo (tengah) memberi keterangan saat konferensi pers. Dokumentasi/ istimewa
Tak Lupa Akar, Muhammad Suryo Buka Peluang Kerja bagi Warga Lampung Timur
Deny Irwanto • 18 January 2026 07:03
Lampung Timur: Kesuksesan yang diraih Muhammad Suryo sebagai pengusaha di Yogyakarta tak membuatnya melupakan kampung halaman. Putra asli Lampung Timur itu memilih kembali dengan membawa harapan baru bagi warga, yakni membuka ribuan lapangan pekerjaan melalui pembangunan pabrik rokok HS di Desa Nibung, Kecamatan Gunung Pelindung.
Di atas lahan seluas sekitar dua hektare, pembangunan pabrik tersebut kini telah dimulai. Bagi Suryo, pabrik ini bukan sekadar ekspansi usaha, melainkan wujud tanggung jawab moral kepada daerah tempat ia tumbuh.
"Targetnya Maret pabrik sudah selesai dan April mulai perekrutan karyawan. Kebutuhan tenaga kerja sekitar 3.000 orang," kata Suryo saat ditemui di sela kegiatan jumpa pers Hey Slank X HS: Berani Kita Beda di Bandar Lampung, Sabtu, 17 Januari 2026.
"Waktu saya kecil, tingkat pengangguran di kampung cukup tinggi. Banyak teman saya akhirnya merantau ke Jakarta. Saya ingin sekarang mereka bisa bekerja di kampung sendiri, dekat dengan keluarga," jelasnya.

Muhammad Suryo (tengah) memberi keterangan saat konferensi pers. Dokumentasi/ istimewa
Suryo lahir dan besar di Lampung Timur sebelum kemudian mengikuti orang tuanya bermigrasi ke Bengkulu. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di Yogyakarta, ia merintis usaha dari nol. Perjalanan panjang itulah yang membentuk pandangannya tentang pentingnya kesempatan kerja.
Berawal dari usaha air isi ulang, bisnis Suryo berkembang ke berbagai sektor, termasuk konstruksi, minyak dan gas, properti, hingga industri penerbangan. Pada 2024, ia mendirikan pabrik rokok HS di Muntilan, Kabupaten Magelang, dengan hanya 30 buruh linting. Kini, pabrik tersebut berkembang dan menyerap ratusan tenaga kerja.
Pola perekrutan di HS dikenal inklusif. Pendidikan formal, usia, dan pengalaman kerja tidak dijadikan syarat utama.
"Banyak orang mau bekerja, tapi terhambat syarat pengalaman. Saya dulu juga mulai tanpa pengalaman dan koneksi. Yang penting ada kemauan belajar," ungkap Suryo.
Prinsip yang sama akan diterapkan di Lampung Timur. Warga sekitar pabrik akan diprioritaskan menjadi karyawan, termasuk penyandang disabilitas. Para pekerja akan mendapatkan pelatihan profesional, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pelintingan, hingga pemahaman standar mutu produksi.
Selama masa pelatihan, calon pekerja juga akan menerima uang saku sebesar Rp300 ribu. Menurut Suryo, hal itu bukan sekadar bantuan transportasi, tetapi bentuk penghargaan agar pekerja merasa dihargai sejak awal.
"Saya ingin mereka datang bekerja dengan rasa percaya diri, bukan merasa sebagai buruh kelas dua," ujarnya.
Selain pembangunan pabrik, kehadiran Suryo di Lampung juga ditandai dengan kegiatan hiburan rakyat melalui konser Hey Slank X HS: Berani Kita Beda di Stadion Pkor Way Halim. Konser tersebut digelar sebagai bentuk apresiasi dan ruang kebersamaan bagi masyarakat.
Bagi grup band Slank, kolaborasi ini memiliki makna sosial. "Kami melihat ini bukan hanya soal bisnis, tapi tentang membuka kesempatan kerja. Saat ekonomi sedang sulit, upaya seperti ini penting untuk didukung," ungkap Bimbim.
Hal senada disampaikan Kaka Slank yang mengaku senang kembali tampil di Lampung setelah sekian lama. “Kami senang bisa hadir di sini, apalagi dengan tujuan yang membawa harapan bagi banyak orang,” katanya.
Di balik pembangunan pabrik dan panggung konser, Suryo berharap satu hal sederhana: masyarakat Lampung Timur bisa merasakan perubahan nyata.
“Kalau orang bisa bekerja di kampungnya sendiri, ekonomi bergerak, keluarga lebih utuh, dan daerah ikut tumbuh. Itu yang saya harapkan,” ujarnya.