AS dan Iran Saling Serang, Trump Sebut Gencatan Senjata Masih Berlaku

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Anadolu

AS dan Iran Saling Serang, Trump Sebut Gencatan Senjata Masih Berlaku

Fajar Nugraha • 8 May 2026 18:45

Washington: Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan pada Kamis, 7 Mei 2026 dalam ujian terbesar sejak gencatan senjata berlaku pada 7 April.

Meski demikian, kedua negara menyatakan tidak ingin memperluas konflik.

Militer Iran menuduh AS menyerang dua kapal yang memasuki Selat Hormuz dan melancarkan serangan ke wilayah Iran. Sebaliknya, militer AS menyatakan serangan dilakukan sebagai respons atas serangan Iran.

Presiden Donald Trump menegaskan gencatan senjata masih berlaku. “Itu hanya serangan kecil,” ujar Trump kepada reporter ABC. Media pemerintah Iran juga melaporkan situasi kembali normal beberapa jam setelah bentrokan terjadi.

Dilansir dari Channel News Asia, Jumat 8 Mei 2026, ketegangan muncul saat Washington masih menunggu tanggapan Iran atas proposal AS untuk mengakhiri konflik. Namun, proposal tersebut belum menyentuh isu utama seperti program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Komando militer Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal tanker minyak Iran, kapal lain, serta wilayah sipil di Pulau Qeshm dan Bandar Khamir Sirik. Iran mengklaim membalas dengan menyerang kapal militer AS di timur Selat Hormuz dan selatan Pelabuhan Chabahar.

Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya mengatakan serangan Iran menimbulkan “kerusakan signifikan”. Namun, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan tidak ada aset mereka yang terkena serangan.

Trump mengatakan tiga kapal perusak Angkatan Laut AS berhasil keluar dari Selat Hormuz di tengah serangan Iran tanpa mengalami kerusakan. Ia mengklaim sejumlah kapal kecil Iran hancur dalam serangan balasan AS. CENTCOM menyebut Iran menggunakan rudal, drone, dan kapal kecil untuk menyerang tiga kapal perang AS. Sebagai respons, AS menyerang lokasi rudal, drone, dan target lain milik Iran.

“CENTCOM tidak mencari eskalasi, tetapi tetap siap melindungi pasukan Amerika,” demikian pernyataan militer AS.

Media Iran, Press TV, melaporkan situasi di pulau-pulau Iran dan wilayah pesisir sekitar Selat Hormuz kembali normal setelah beberapa jam baku tembak berlangsung. Sebelumnya pada Senin, AS juga mengklaim menghancurkan enam kapal kecil Iran dan mencegat rudal jelajah serta drone Iran.

Gencatan Senjata dalam Tekanan

Sebelum bentrokan terbaru, AS telah mengajukan proposal untuk mengakhiri konflik secara resmi. Namun, proposal itu belum memenuhi tuntutan Washington agar Iran menghentikan program nuklirnya dan membuka kembali Selat Hormuz yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Teheran menyatakan belum mengambil keputusan atas proposal tersebut. Diplomat senior Middle East Institute, Alan Eyre, menilai Iran kemungkinan bersedia membuka kembali jalur laut itu, tetapi tidak seperti kondisi sebelum perang.

“Iran berusaha menjadikan kendali atas selat itu sebagai alat tekanan sekaligus sumber keuntungan,” ujar Eyre.

Ia menilai negosiator Iran berpengalaman dan disiplin, sementara kemampuan negosiasi pemerintahan AS saat ini dinilai kurang kuat.

Menurut Eyre, bentrokan terbaru kemungkinan tidak langsung menggagalkan perundingan, tetapi semakin mengurangi kepercayaan kedua pihak. “Semakin lama gencatan senjata berlangsung, maka akan semakin rapuh,” kata Eyre.

Di tengah situasi tersebut, AS menjatuhkan sanksi terhadap wakil menteri minyak Irak dan tiga pemimpin milisi yang dituduh mendukung Iran. Sementara itu, Israel mengklaim telah membunuh seorang komandan Hizbullah dalam serangan udara di Beirut sehari sebelumnya.

Penghentian serangan Israel di Lebanon disebut menjadi salah satu tuntutan utama Iran dalam negosiasi dengan Washington.

(Keysa Qanita)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)