Ilustrasi bagasi di kabin pesawat. Foto: Pexels.
Industri Penerbangan Diminta Kaji Skema Bagasi Berbasis Jumlah Koper
Husen Miftahudin • 8 July 2026 13:53
Jakarta: Wacana penerapan skema bagasi berbasis jumlah koper (piece concept) kembali menjadi perhatian publik setelah ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah kalangan menilai konsep tersebut layak dikaji sebagai salah satu alternatif kebijakan bagasi maskapai penerbangan di Indonesia.
Ketua Umum Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Rusmiati mengatakan konsep one piece baggage allowance dapat menjadi pilihan kebijakan yang disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan serta pola perjalanan masyarakat.
Rusmiati menilai skema bagasi berbasis jumlah koper berpotensi memberikan kemudahan bagi penumpang, terutama yang melakukan perjalanan jarak jauh atau berlibur dalam waktu yang lebih lama.
"Kami melihat hal tersebut jadi salah satu opsi kebijakan bagasi yang mungkin dapat dipertimbangkan oleh maskapai, selama implementasinya mampu menjawab kebutuhan penumpang khususnya mereka yang melakukan perjalanan jarak jauh atau berlibur dalam durasi yang lebih panjang. Dalam konteks tersebut, konsep bagasi berbasis piece baggage menjadi salah satu alternatif yang patut dipertimbangkan," ujar Rusmiati dikutip dari keterangan tertulis, Rabu, 8 Juli 2026.
Namun, ia mengingatkan penerapan skema tersebut juga perlu mempertimbangkan aspek operasional maskapai, seperti konsumsi bahan bakar dan efisiensi biaya. "Hal-hal seperti ini biasanya akan menjadi pertimbangan utama maskapai dalam menentukan kebijakan," ungkap dia.
Ia menambahkan, ASITA mendukung setiap kebijakan yang dapat meningkatkan kualitas layanan kepada pengguna jasa transportasi udara selama tetap mengedepankan aspek keselamatan dan keberlanjutan industri.
| Baca juga: Reaktivasi September, Ini 8 Destinasi Penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara |

(Ilustrasi. Foto: Metrotvnews.com/Husen)
Pola perjalanan penumpang telah berubah
Sementara itu, pengamat transportasi udara Gatot Raharjo menilai konsep one piece baggage allowance layak menjadi salah satu alternatif yang dikaji oleh industri penerbangan nasional.
Menurut dia, perubahan pola perjalanan penumpang membuat industri perlu mengevaluasi apakah sistem bagasi berbasis total berat masih menjadi pendekatan yang paling relevan untuk seluruh segmen pengguna jasa.
"Kalau kita melihat tren global, pengaturan bagasi di industri penerbangan memang tidak lagi hanya bicara soal berapa kilogram yang boleh dibawa," jelas dia.
"Di sejumlah maskapai internasional, pendekatan piece concept telah diterapkan sebagai salah satu skema pengaturan bagasi, di mana penumpang diberikan kepastian dalam bentuk jumlah koper atau koli, dengan batas berat tertentu per piece," ungkap Gatot menambahkan.
Ia menilai sistem tersebut lebih mudah dipahami karena penumpang mengetahui secara jelas jumlah koper yang diperbolehkan, bukan hanya batas total berat bagasi.
Gatot mengatakan konsep piece concept berpotensi meningkatkan pengalaman penumpang, terutama bagi keluarga, wisatawan, maupun pelaku perjalanan dinas yang membutuhkan kepastian sejak sebelum keberangkatan.
"Dalam konteks pengalaman penumpang, piece concept berpotensi memberikan kepastian yang lebih baik bagi penumpang sejak awal perjalanan. Penumpang tahu bahwa yang dihitung bukan sekadar total kilogram, tetapi juga jumlah koper. Ini penting karena di lapangan, aturan berbasis berat kadang masih membuka ruang miskomunikasi," papar dia.
Menurut Gatot, kepastian mengenai jumlah koper yang dapat dibawa berpotensi mengurangi kebingungan saat proses check-in.