Pemerintah Rancang Peta Jalan Talenta Seni  Berbasis  Data

Menteri Kebudayaan Fadli Zon (kiri) bersama Founder ESQ Group Ary Ginanjar Agustian usai rapat pembahasan SDM kebudayaan dan manajemen talenta.

Pemerintah Rancang Peta Jalan Talenta Seni Berbasis Data

10 January 2025 14:40

Jakarta: Kementerian Kebudayaan mulai meletakkan fondasi baru dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) kebudayaan nasional.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong transformasi sistem manajemen talenta yang tidak lagi berpijak pada asumsi, melainkan pada pemetaan yang terukur, objektif, dan berbasis data.

Dalam rapat pembahasan pemetaan SDM kebudayaan di Jakarta, Menbud Fadli menegaskan bahwa identifikasi bakat sejak dini merupakan kunci utama untuk membangun ekosistem seni yang kompetitif.

Salah satu instrumen yang dilirik adalah pendekatan Talent DNA yang dikembangkan oleh ESQ Group. "Jika ini menjadi program nasional, kita dapat menyingkap bakat-bakat terpendam siswa di seluruh pelosok Indonesia. Kita ingin pengembangan talenta bertumpu pada potensi nyata setiap individu," ujar Fadli Zon.

Salah satu poin krusial yang disampaikan Menbud adalah upaya menyetarakan posisi seni dengan bidang sains dan teknologi. Pemerintah berencana memperluas paradigma pendidikan dari STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi STEAM, dengan menyisipkan Arts (Seni) di dalamnya.

Langkah ini dinilai penting untuk memastikan pembangunan talenta nasional berlangsung secara holistik. Fadli juga menyoroti pentingnya pengakuan kompetensi bagi para maestro dan pelaku budaya.

"Banyak maestro yang keahliannya lahir dari pengalaman panjang, bukan sekadar pendidikan formal. Itu adalah bentuk kompetensi yang harus kita hargai setara dengan jalur akademik," tambahnya.

Diagnosis Bakat Lewat Talent DNA

Founder ESQ Group, Ary Ginanjar Agustian, menjelaskan bahwa pemetaan ini merupakan langkah konkret untuk memfasilitasi siswa dalam menggali minat mereka di enam bidang seni: pertunjukan, rupa, desain, kriya, sastra, hingga seni media dan animasi.

Melalui algoritma Drive Network Action, sistem ini mampu membaca pola motif dan kecenderungan perilaku siswa. "Dari sana kita bisa melihat siapa yang memiliki kekuatan di seni, atau mungkin lebih condong ke riset dan matematika. Jadi, arah pembinaannya menjadi jelas," jelas Ary.

Data awal dari riset terhadap 870 siswa di beberapa sekolah, menunjukkan hasil yang beragam. Vice President ESQ Group, Dwitya Agustina, mengungkapkan bahwa potensi seni tersebar merata namun dengan pola keunggulan yang berbeda di tiap sekolah.

“Pembinaan tidak bisa diseragamkan. Berdasarkan data, mayoritas siswa memiliki gaya belajar kinestetik dan auditori. Artinya, kelas seni harus lebih banyak praktik, simulasi, dan guru harus memahami profil unik setiap muridnya,” tutur Dwitya.

Ke depan, hasil pemetaan berbasis data ini diharapkan menjadi kompas bagi Kementerian Kebudayaan dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran, baik di tingkat pusat maupun daerah, guna menciptakan generasi emas di bidang kebudayaan yang relevan dengan tantangan zaman.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com