Anggota DPR RI Fraksi NasDem daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II (NTT II), Viktor Bungtilu Laiskodat. Foto: Dok. NasDem.
Viktor Laiskodat Gagas Kampung Membaca dan Biayai Buku Anak Kupang
Fachri Audhia Hafiez • 3 November 2026 21:15
Kupang: Pembangunan sumber daya manusia Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai perlu dimulai dari rumah dan lingkungan tempat anak-anak tumbuh. Kebiasaan membaca, disiplin, dan pembentukan karakter harus menjadi bagian dari pendidikan sehari-hari agar generasi muda memiliki bekal menghadapi persaingan masa depan.
Gagasan tersebut disampaikan Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II (NTT II), Viktor Bungtilu Laiskodat, saat melakukan reses bersama masyarakat di Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Selasa, 3 November 2026.
Baca Juga :
Kunjungi Politeknik Negeri Kupang, Viktor Laiskodat Tekankan Pentingnya Riset dan Inovasi
Dalam pertemuan itu, Viktor menawarkan pembentukan gerakan kampung membaca melalui lingkungan rukun tetangga (RT). Ia bahkan menyatakan kesediaannya mendukung pembiayaan tempat membaca dan penyediaan buku bagi anak-anak.
Menurut Viktor, gerakan tersebut perlu dimulai dari lingkungan terkecil agar membaca tumbuh sebagai kebiasaan. Sehingga, bukan hanya aktivitas ketika anak berada di sekolah.
“Saya tidak mau datang hanya untuk memberikan bantuan. Saya ingin ada sesuatu yang terus dikerjakan setelah pertemuan ini. Salah satunya, anak-anak harus mulai membaca. Kalau perlu, kita siapkan satu tempat di lingkungan RT sebagai tempat membaca bersama. Saya bersedia membiayainya,” kata Viktor.
Ia meminta pengurus RT berkoordinasi dengan masyarakat untuk menyiapkan tempat yang dapat digunakan anak-anak membaca secara rutin. Apabila terdapat rumah warga yang bersedia dimanfaatkan, tempat tersebut dapat disiapkan dengan dukungan pembiayaan darinya.
Viktor juga meminta agar anak-anak diperkenalkan dengan berbagai jenis bacaan. Selain buku keagamaan, mereka perlu mendapatkan buku pengetahuan umum, ilmu pengetahuan, dan berbagai literatur yang memperluas wawasan.
“Tidak ada manusia yang maju kalau tidak membaca. Karena itu, orang tua harus membangun kebiasaan membaca di rumah. Kalau anak-anak membutuhkan buku, sampaikan kepada kami. Kita siapkan,” ucap Viktor.
.jpeg)
Anggota DPR RI Fraksi NasDem daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II (NTT II), Viktor Bungtilu Laiskodat. Foto: Dok. NasDem.
Disiplin dibentuk sejak keluarga
Selain literasi, Viktor menempatkan disiplin sebagai fondasi penting dalam pembentukan sumber daya manusia. Ia menceritakan kebiasaan bangun pagi, membaca, dan bekerja keras yang dibentuk keluarganya sejak kecil.
Menurut dia, karakter tidak dapat dibangun melalui nasihat sesaat. Anak-anak membutuhkan pendampingan dan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten oleh orang tua maupun lingkungan.
“Saya bisa berdiri seperti sekarang karena disiplin. Saya membiasakan diri bangun lebih pagi, membaca, dan bekerja keras. Kebiasaan itu tidak muncul tiba-tiba. Anak-anak harus dilatih sejak kecil, terus-menerus, sampai disiplin menjadi bagian dari karakter mereka,” ujar Viktor.
Ia juga mengajak orang tua memberikan kesempatan pendidikan yang setara kepada anak laki-laki maupun perempuan. Viktor menilai, perempuan memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat apabila mendapatkan akses pendidikan dan kesempatan kerja yang memadai.
Dalam kesempatan tersebut, Viktor turut memberikan perhatian kepada anak-anak yang tampil dalam paduan suara. Ia menyampaikan rencana mendukung tenaga pengajar bahasa Inggris secara penuh waktu dengan anggaran Rp10 juta per bulan.
Ia berharap pembelajaran dapat dilaksanakan lima hingga enam kali dalam sepekan sehingga anak-anak memiliki kesempatan lebih besar menguasai bahasa asing.
Menurut Viktor, penguasaan bahasa Inggris dan Mandarin akan menjadi modal penting bagi generasi muda NTT, terutama ketika perkembangan pariwisata dan investasi semakin terbuka. Namun, kemampuan bahasa asing tersebut harus tetap berjalan bersama pelestarian bahasa daerah.
“Anak-anak kita harus mampu berbahasa Inggris, Mandarin, sekaligus menguasai bahasa daerahnya. Kita tidak boleh kehilangan identitas lokal, tetapi juga harus mempersiapkan mereka agar mampu berkomunikasi dan bersaing dalam dunia internasional,” kata Viktor.
Viktor berharap gerakan kampung membaca tidak berhenti di Maulafa, tetapi dapat diperluas ke Oepura dan lingkungan lain di Kota Kupang. Ia mengajak masyarakat menjadikan pendidikan sebagai tanggung jawab bersama, termasuk membantu anak-anak yang memiliki keterbatasan ekonomi agar tetap dapat melanjutkan sekolah.
“Yang ingin saya siapkan adalah generasi yang lebih baik daripada kita hari ini. Anak-anak yang cerdas, jujur, berani, disiplin, dan memiliki empati. Kelak, ketika mereka berhasil, mereka juga harus mampu membantu orang lain,” ujar Viktor.