Stasiun Gambir akan Berubah, Simak Rencana Integrasi KRL

Ilustrasi Stasiun Gambir. Foto: dok MI.

Stasiun Gambir akan Berubah, Simak Rencana Integrasi KRL

Ade Hapsari Lestarini • 29 September 2026 11:38

Jakarta: PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyiapkan transformasi Stasiun Gambir secara bertahap. Pengembangan ini diarahkan untuk memperkuat fungsi Gambir sebagai gerbang perjalanan kereta api jarak jauh sekaligus meningkatkan akses menuju pusat Jakarta.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pengembangan Gambir mempertimbangkan konektivitas dengan moda transportasi lain. Dalam kajian New Gambir, KAI menyiapkan konsep yang menghubungkan perjalanan kereta api jarak jauh dengan KRL, MRT, BRT, serta kawasan Monas.

"Pengembangannya diarahkan untuk memperkuat fungsi Gambir sebagai gerbang perjalanan KA Jarak Jauh sekaligus mendukung konektivitas masyarakat menuju pusat aktivitas Jakarta," ujar Anne dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa, 29 September 2026. 

Sepanjang Januari-Juli 2026, Stasiun Gambir mencatat 3.871.579 pelanggan, terdiri atas 1.990.205 pelanggan berangkat dan 1.881.374 pelanggan tiba. Saat ini, stasiun tersebut melayani 34 perjalanan kereta api reguler per hari dengan sekitar 78 aktivitas pemberhentian untuk naik dan turun penumpang kereta jarak jauh.
 

Layanan KRL di Gambir masih dikaji


Jalur layang di kawasan Gambir dilintasi 326 perjalanan KRL Bogor Line setiap hari pada relasi Jakarta Kota-Bogor dan Jakarta Kota-Nambo. Namun, Commuter Line belum melayani naik dan turun penumpang di Stasiun Gambir.

Menurut KAI, pembukaan layanan tersebut memerlukan kajian atas kesiapan peron, alur perpindahan penumpang, kapasitas lintas, kelistrikan, persinyalan, hingga pola operasi. Pengembangannya juga membutuhkan koordinasi dengan regulator.

"Apabila layanan Commuter Line di Gambir dikembangkan, maka berbagai aspek harus dipersiapkan secara menyeluruh, mulai dari fasilitas pelayanan pelanggan, kesiapan peron, alur perpindahan, kapasitas lintas, kelistrikan, persinyalan, hingga pola operasi. Keselamatan dan keandalan perjalanan tetap menjadi prioritas utama," kata Anne.


Ilustrasi. Foto: dok MI.
 

KAI menyebut, kebutuhan integrasi antarmoda meningkat seiring pertumbuhan perjalanan KRL Jabodetabek. Jumlahnya naik dari 217,96 juta perjalanan pada 2022 menjadi 344,62 juta perjalanan pada 2025, atau tumbuh 58,11 persen dalam tiga tahun.

Dalam rencana pengembangan Gambir, KAI turut mengkaji penyediaan peron dan area penghubung KRL, pusat perpindahan antarmoda di lantai bawah, serta penataan alur kedatangan dan keberangkatan kereta jarak jauh. Rencana tersebut masih menjadi bagian dari kajian, sehingga belum ada layanan naik dan turun penumpang KRL di Gambir saat ini.
 

Kaji perluasan area komersial


Selain konektivitas, KAI mengkaji pengembangan area ritel, kuliner, hotel, ruang pertemuan, taman di atap bangunan, dan ruang publik. Saat ini, terdapat 132 area komersial yang telah tersewa di Stasiun Gambir.

Berdasarkan kajian KAI, pengembangan New Gambir berpotensi menambah sekitar 15.479 meter persegi area komersial dan 3.756 meter persegi area hotel serta ruang pertemuan. Jika rencana tersebut terealisasi, kawasan ini diperkirakan dapat menampung 220-310 unit usaha dan membuka sekitar 500-1.000 peluang kerja langsung maupun pendukung. Jumlahnya masih bergantung pada desain akhir, tahapan pembangunan, dan pola operasional kawasan. (Selsha Septifanie Gunawan)

(Ade Hapsari Lestarini)