Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meraih Leadership Award Amerta Nutrition 2026. ANTARA/HO-Biro Adpim Pemprov Jatim.
Prevalensi Stunting Jatim Turun, Khofifah Raih Leadership Award Amerta Nutrition 2026
Silvana Febiari • 27 October 2026 15:12
Surabaya: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meraih ANC 2026 Leadership Award dari Jurnal Amerta Nutrition atas kontribusinya dalam pembangunan gizi dan kesehatan masyarakat. Penghargaan tersebut diberikan, antara lain, atas upaya percepatan penurunan prevalensi stunting di Jawa Timur.
“Bagi saya, penghargaan ini bukan sekadar apresiasi kepada seorang pemimpin, melainkan amanah dan pengingat bahwa pembangunan gizi merupakan fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan masa depan bangsa,” ujar Khofifah di Surabaya, dilansir dari Antara, Selasa, 27 Oktober 2026.
Penghargaan yang diberikan oleh Jurnal Amerta Nutrition, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan 6th Amerta Nutrition Conference (ANC) 2026.
Salah satu capaian yang menjadi pertimbangan pemberian penghargaan ialah penurunan prevalensi stunting di Jawa Timur dari 17,7% pada 2023 menjadi 14,7% pada 2024. Berdasarkan penilaian penyelenggara, capaian tersebut menempatkan Jawa Timur di posisi kedua secara nasional dalam kategori prevalensi stunting terendah.
Khofifah menyebut penurunan tersebut merupakan hasil kerja sama berbagai pihak. Kolaborasi itu melibatkan perangkat daerah, Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), perguruan tinggi, organisasi masyarakat, serta mitra pembangunan.
Percepatan penanganan stunting dijalankan melalui intervensi terpadu yang menyasar pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita. Edukasi mengenai gizi keluarga juga menjadi bagian dari upaya tersebut.
Selain itu, pemerintah daerah memperkuat pendampingan melalui konseling dari rumah ke rumah, pendampingan bagi ibu hamil yang mengalami kurang energi kronis (KEK), serta program Jawa Timur Tanggap terhadap Ibu Hamil Risiko Stunting.
“Pesan saya, jangan sampai kita hanya mengejar penurunan angka, tetapi melupakan kualitas intervensi dan keberlanjutan hasilnya. Setiap anak harus memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, berkembang optimal, dan terbebas dari masalah gizi,” ungkapnya.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. (ANTARA/HO - Humas Pemprov Jatim)
Khofifah juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, TP PKK, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), dan para pemangku kepentingan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Koordinasi tersebut juga diperlukan dalam memperkuat tata kelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurut Khofifah, pembangunan gizi membutuhkan keterlibatan lintas sektor, kebijakan yang berlandaskan data dan bukti ilmiah, serta intervensi berkelanjutan. Upaya tersebut perlu dilakukan sejak masa remaja dan persiapan pernikahan, selama kehamilan, hingga periode seribu hari pertama kehidupan.
Ia berharap Amerta Nutrition Conference terus menjadi wadah pertemuan akademisi, pengambil kebijakan, dan pelaksana program untuk merumuskan solusi bagi peningkatan status gizi masyarakat. Upaya tersebut diharapkan turut mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.