Ilustrasi Pexels
Ular Semakin Sering Masuk Pemukiman, Pakar Ungkap Penyebabnya
Muhamad Marup • 6 June 2026 12:40
Jakarta: Temuan ular di pemukiman warga semakin sering terjadi. Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University, Mirza Dikari Kusrini, mengatakan, perubahan iklim dan alih fungsi lahan berpotensi meningkatkan frekuensi pertemuan antara ular dan manusia.
"Kondisi ini terjadi karena perubahan suhu, curah hujan, hilangnya habitat alami, serta pergeseran sumber pakan yang mendorong ular berpindah ke area yang lebih dekat dengan aktivitas manusia," ujar Mirza, dalam keterangan resminya, Sabtu, 6 Juni 2026.
Baca Juga :
Daftar 5 Ular Paling Mematikan di Dunia
"Peningkatan suhu rata-rata dapat mengubah pola aktivitas harian dan musiman ular, termasuk waktu berburu, reproduksi, dan penggunaan habitat," jelas pakar ekologi satwa liar itu.
Mirza menilai, perubahan pola curah hujan, banjir, kekeringan berkepanjangan, hingga kejadian cuaca ekstrem juga dapat menurunkan kualitas habitat alami. Akibatnya, ular mencari lokasi alternatif yang masih menyediakan perlindungan dan sumber makanan.
Permukiman manusia kerap menjadi tujuan karena menyediakan tikus, ayam, kolam, saluran drainase, serta berbagai tempat berlindung. Selain itu, populasi mangsa seperti rodensia (hewan pengerat) dan amfibi ikut bergeser akibat perubahan lingkungan.
"Ular cenderung mengikuti distribusi mangsanya," tuturnya.
Mirza menambahkan, alih fungsi lahan dan fragmentasi habitat jadi penyebab penting. Hal tersebut justru sering menjadi faktor yang lebih langsung dibandingkan perubahan iklim dalam meningkatkan interaksi manusia dan ular.
"Hilangnya habitat alami memaksa ular mencari tempat berlindung, pasangan, maupun sumber makanan di area yang dekat dengan manusia," ucapnya.
Ular Kobra hingga Sanca Perlu Diwaspadai
Mirza mengatakan fenomena pergeseran habitat ular sangat mungkin terjadi di Indonesia. Kenaikan suhu dan perubahan pola hujan diperkirakan akan memengaruhi distribusi sejumlah spesies ular, terutama yang hidup di kawasan pertanian dan pinggiran permukiman."Ular yang sering ditemukan di lanskap pertanian dan pinggiran permukiman seperti ular kobra, ular welang, dan weling yang makanannya rodensia berpotensi bergeser ke permukiman dan meningkatkan potensi gangguan terhadap manusia," katanya.
.jpg)
Foto: Michael Allen Smith/Flickr
Ia mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, menutup celah bangunan, serta menghindari upaya menangkap atau membunuh ular tanpa pelatihan. Menurutnya, hal tersebut penting untuk mengurangi risiko konflik dan gigitan ular.
"Strategi mitigasi yang ideal bukanlah menghilangkan ular dari lingkungan, melainkan mengurangi risiko interaksi berbahaya sambil mempertahankan fungsi ekologisnya," ucapnya.
Ia menegaskan bahwa ular merupakan predator penting yang membantu mengendalikan populasi tikus dan menjaga keseimbangan ekosistem. Pemerintah juga perlu memperkuat sistem respons konflik satwa, meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam penanganan gigitan ular, serta mendorong penelitian dan pengembangan antivenom dan Venom Detection Kits (VDK) untuk membantu identifikasi jenis bisa ular dan meningkatkan efektivitas penanganan kasus gigitan.
"Selain itu, habitat dan koridor ekologis perlu dilindungi untuk mengurangi perpindahan satwa ke kawasan permukiman," ungkapnya.